Senin 10 Oct 2022 17:48 WIB

Kota Bandung Belum Punya Kampung Siaga Bencana

Pemkot menggencarkan edukasi dan sosialisasi KSB terkait antisipasi dan mengatasinya.

Rep: dea alvi soraya/ Red: Hiru Muhammad
Wali Kota Yana Mulyana menghadiri sekaligus membuka rapat koordinasi penanggulangan bencana di Kota Bandung di Hotel Grandia, Cihampelas, Senin (10/10/2022).
Foto: Republika/Dea Alvi Soraya
Wali Kota Yana Mulyana menghadiri sekaligus membuka rapat koordinasi penanggulangan bencana di Kota Bandung di Hotel Grandia, Cihampelas, Senin (10/10/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG—Badan Meteologi, Klimatologi dan Geofisika mengumumkan potensi terjadinya cuaca ekstrem hingga pertengahan Oktober. Dalam keterangan yang dirilis Sabtu (8/10/2022), sejumlah daerah di Jawa Barat akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada periode 9-15 Oktober. 

Pemerintah Kota Bandung, melalui rapat koordinasi penanggulangan bencana yang digelar pada Senin (10/10/2022), berencana membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB). Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengakui, hingga saat ini Kampung Siaga Bencana belum terbentuk di Kota Bandung. Dia berharap, melalui rapat koordinasi penanggulangan bencana ini, cita-cita Pemkot Bandung untuk melahirkan kampung-kampung siaga bencana dapat lebih cepat terwujud. 

Baca Juga

“Mudah-mudahan kita bisa buat cukup banyak titik-titik kampung siaga bencana ya, sehingga nanti kalau ada satu bencana di satu wilayah lebih cepat penanggulangannya. Jadi bukan hanya aparat pemerintahan yang diidorong untuk semakin paham penanggulangan bencana, tapi warga juga dapat memahami bagaimana menanggulangi bencana dan pasca bencana,” kata Yana saat membuka rapat koordinasi penanggulangan bencana di Hotel Grandia, Cihampelas, Senin (10/10/2022). 

“(Pembentukan KSB) Lebih cepat lebih baik. Mudah-mudahan dari rakor ini warga sama pemerintah kota dan stakeholder kebencanaan bisa segera buat role model dulu lah,” sambungnya. 

Kepala Dinas Sosial Kota Bandung Soni Bakhtiyar mengatakan, melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Bandung memiliki hajat untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi terkait penanggulangan dan antisipasi bencana. Dia menambahkan, hingga saat ini jumlah Kampung Siaga Bencana di Indonesia baru berjumlah sekitar 800 titik, dan belum ada satu titik pun di Kota Bandung. 

“Kami juga ingin mensosialisasikan akan adanya pembentukan kampung siap bencana karena di kota bandung ini belum terbentuk, jadi saat ini di Indonesia baru aja 800 KSB dan di Bandung belum ada,” kata Soni. 

KSB, kata dia, nantinya akan dibangun di titik-titik kebencanaan, yang sejauh ini berjumlah 38 titik. Titik tersebut merupakan wilayah terjadinya bencana seperti banjir, kebakaran, angin puting beliung, dan longsor. Soni mengatakan sepanjang 2022, Januari-Oktober, terdata sebanyak sembilan kejadian banjir, 11 kejadian puting beliung, 16 kebakaran, dan 2 kejadian longsor.  “Jadi total titik kebencanaan itu ada 38 titik,” jelas Soni saat dihubungi Republika, Senin (10/10/2022). 

Sejauh ini, persiapan yang dilakukan Pemkot Bandung untuk membentuk KSB adalah dengan melakukan pemetaan lokasi kebencanaan. Dinsos sendiri, sambung dia, saat ini tengah melakukan inventarisasi potensi bencana di setiap wilayah di Kota Bandung.  “Kita menyebarkan format untuk diisi potensi bencana di setiap wilayah. Kita inventarisasi, lalu kita lakukan pemetaan," ungkapnya.

“(KSB) nantinya akan fokus pada titik-titik mana yang sering terjadi bencana, nanti dianggap menjadi kampung siaga bencana,” sambungnya.

Nantinya, selain menjadi pusat sosialisasi upaya penanggulangan dan antisipasi bencana, KSB juga akan menjadi wilayah sumber pangan bagi para korban bencana dan pusat sarana prasarana penanggulangan bencana. “Nanti akan ada lumbung pangannya, ada kelengkapan sarana prasarana, disesuaikan dengan kondisi bencana yang sering terjadi di wilayah itu,” jelas Soni. 

“Mudah-mudahan 2023 ini dibentuk karena perlu kesiapan, tidak hanya anggaran, tetapi juga harus koordinasi dari semua perangkat daerah dan masyarakat, tidak mungkin hanya dari anggaran APBD kota saja,” katanya. 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement