Senin 12 Sep 2022 23:40 WIB

Gubernur Syamsuar Ungkap Alasan Harga Cabai Merah Fluktuatif di Riau

Harga cabai merah tinggi karena Riau tiap tahun kekurangan 15.096 ton cabai

Rep: Febrian Fachri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Seorang pedagang mensortir cabai merah keriting yang didatangkan dari Bukit Tinggi di Pasar Induk Pulo Payung Kota Dumai, Riau.
Foto: ANTARA/Aswaddy Hamid
Seorang pedagang mensortir cabai merah keriting yang didatangkan dari Bukit Tinggi di Pasar Induk Pulo Payung Kota Dumai, Riau.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Gubernur Riau, Syamsuar, mengatakan kebutuhan cabai merah di daerahnya cukup tinggi. Setiap tahun menurut Syamsuar, Riau kekurangan 15.096 ton cabai.

"Tercatat kebutuhan cabai merah untuk Riau sekitar 29.193 Ton (tingkat konsumsi 4,53 Kg/Kapita/Tahun), sementara produksi tahun 2021, 14.097 Ton dengan luas panen 1.555 Ha," kata Syamsuar, Senin (12/9).

Ia menjelaskan rata-rata produktivitas cabai di Riau adalah 8,4 ton per hektar. Sehingga terdapat kekurangan sebesar 15.096 Ton atau 51,71 persen.

Kekurangan inilah yang dipenuhi dari provinsi tetangga seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, Lampung, dan Jawa.

"Hal ini menyebabkan harga cabai berfluktuasi, tergantung dari harga di tingkat petani, ditambah dengan margin pemasaran hingga cabai sampai di tangan konsumen masyarakat Riau," ucap Syamsuar.

Dalam rangka mendukung kestabilan harga serta persediaan cabai dan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat Riau terhadap pangan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menurut Syamsuar melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau dan Perangkat Daerah terkait secara bertahap membagikan bibit cabai untuk masyarakat Riau.

Pembagian bibit cabai untuk masyarakat ini dilakukan secara bertahap di seluruh Kabupaten/Kota dengan prioritas terutama di wilayah inflasi yang tinggi, yaitu Kota Pekanbaru, Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hilir.

Pembagian bibit cabai secara gratis ini merupakan salah satu upaya menyiapkan logistik hortikultura strategis untuk mengendalikan inflasi, karena tingginya harga cabai.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement