Jumat 09 Sep 2022 08:22 WIB

Agar Dai tak Lagi Kerja Sendiri

Berjuang sendirian menciptakan kehidupan keagamaan yang harmonis bukan hal mudah

Dai perlu support dari elemen lain untuk bisa mengoptimalkan kerjanya. Ilustrasi foto umat muslim mendengarkan ceramah Sholat Jumat di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat (8/4/2022).
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Dai perlu support dari elemen lain untuk bisa mengoptimalkan kerjanya. Ilustrasi foto umat muslim mendengarkan ceramah Sholat Jumat di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat (8/4/2022).

Oleh : Agung Sasongko, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Terlalu berat untuk membebani dai dalam menjawab tantangan yang dihadapi umat. Berjuang sendirian untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang harmonis bukanlah perkara mudah.  Dai juga membutuhkan bantuan sehingga lebih banyak menjangkau umat.  Apalagi yang terjadi saat ini, ada daerah yang membutuhkan banyak dai guna mengeliatkan kegiatan keagamaan. Namun ada pula daerah yang memiliki stok banyak dai sehingga kegiataan keagamaannya begitu harmonis. Belum lagi bicara daerah perbatasan dan tertinggal. Ini yang saya kira jadi titik tumpunya. Saya enggan bicara soal isu kompetensi dan standarisasinya, karena pada dasarnya tugas dai itu mengajak pada kebaikan.

Setidaknya ada tiga pihak yang miliki potensi membantu tugas para dai untuk membimbing dan membina masyarakat.  Pertama, para lulusan agama utamanya pesantren dan sederajat ini diwajibkan magang di mushola atau masjid di seluruh nusantara. Sembari berjalan, saya yakin program ini bisa dilakukan beriringan dengan kaderiasi dai secara berjenjang. Prinsipnya ada bibit yang kita tanam untuk dipanen kemudian hari.

Mengapa lulusan agama atau pesantren dan sederajat sangat dibutuhkan?, karena memang perlu untuk mengisi ketiadaan dai di setiap daerah. Karena saat ini masih ada mushola atau masjid yang tidak memiliki sumber daya yang cakap untuk memegang tanggungjawab yang demikian besar. Seperti ada mata rantai yang hilang dalam kehadiran tempat ibadah yang demikian besar namun tak diimbangi dengan kecukupan sumber daya sebagai motor penggerak pemakmuran masjid. Akibat yang terjadi adalah, masjid sebagai sentral dari keumatan ini jalan di tempat. Munculah anekdot bangunnya gampang memakmurannya yang susah.

Kedua, posisi KUA sebagai lembaga yang juga dekat dengan masyarakat ini harusnya juga bisa memainkan perannya. Tak sebatas hanya menyediakan penghulu pernikahan. Fungsinya saya kira bisa lebih dari itu. Seperti pelayanan bimbingan kemasjidan, pelayanan bimbingan hisab rukyat, dan pembinaan syariah. Juga ada pembinaan zakat, infak, dan sedekah.

Dengan posisinya yang demikian luas menjangkau umat, kiranya memfungsikan KUA sebagai lembaga dakwah sangat relevan. Tinggal bagaimana pemetaan dilakukan kemudian eksekusinya dengan target jangka panjang. Dengan demikian, upaya peningkatan kualitas kehidupan beragama termasuk di dalamnya moderasi beragama bisa terwujud.

Untuk itu, saya mengapresiasi revitaliasi KUA yang telah dilakukan Melalui Revitalisasi KUA, Kemenag tidak hanya memberikan layanan nikah dan rujuk tetapi layanan keagamaan lain seperti zakat dan wakaf, kemasjidan, hingga pusat Moderasi Beragama dan deteksi dini konflik keagamaan di masyarakat. Melihat apa yang dijabarkan Kemenag, revitalisasi KUA nantinya secara khusus menyasar peningkatan sarana prasarana, Sumber Daya Manusia (SDM), digitalisasi layanan, dan program afirmatif di bidang keagamaan, sosial, ekonomi, dan kebangsaan. Dengan potensinya yang demikian besar, sudah tepat menjadikan revitalisasi KUA menjadi agenda prioritas.

Ketiga, ada peran penting dalam majelis taklim yang tak bisa diabaikan. Majelis taklim merupakan salah satu lembaga pendidikan keagamaan nonformal khas Islam yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat sejak lama. Menurut Ketua PBNU KH Ahmad Fahrur Rozi atau akrab disapa Gus Fahrur, majelis taklim yang kerap diselenggarakan di masjid dan mushala atau tempat lainnya telah mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan bangsa.Saya sepakat soal ini, majelis taklim perlu dilibatkan dalam upaya mengisi kekosongan dakwah.

Majelis taklim secara alamiah telah menjadi wadah yang memberikan dampak luar biasa kepada masyarakat. Program-programnya yang terorganisasi seperti penggalangan bantuan sosial, mengadakan arisan kelompok majelis taklim, dan lainnya, ini menjadi bukti betapa luar biasanya pergerakan majelis taklim. Saya yakini, majelis taklim ini memiliki solusi yang bisa dipertimbangkan dalam upaya mengatasi permasalahan dan tantangan dihadapi umat antara lain menyangkut peredaran narkoba, kekerasan sosial/seksual, ujaran kebencian, dan fitnah di media sosial.  N Agung Sasongko

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement