Rabu 27 Jul 2022 17:06 WIB

Kontak Erat Jadi Sumber Utama Penularan Cacar Monyet, Termasuk Melalui ASI

Masa inkubasi cacar monyet berlangsung dengan dua periode.

Gambar 1997 ini disediakan oleh CDC selama penyelidikan wabah cacar monyet, yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC), sebelumnya Zaire, dan menggambarkan permukaan punggung tangan pasien kasus cacar monyet, yang menunjukkan munculnya ruam khas selama tahap penyembuhannya.
Foto: CDC
Gambar 1997 ini disediakan oleh CDC selama penyelidikan wabah cacar monyet, yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC), sebelumnya Zaire, dan menggambarkan permukaan punggung tangan pasien kasus cacar monyet, yang menunjukkan munculnya ruam khas selama tahap penyembuhannya.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dian Fath Risalah, Amri Amrullah

Cacar monyet atau monkeypox telah ditetapkan sebagai kondisi kesehatan darurat global oleh lembaga kesehatan dunia (WHO). Meski masih belum terdeteksi di Indonesia, namun kasus cacar monyet sudah ditemukan di negara tetangga Singapura. Sebanyak 75 negara juga sudah melaporkan lebih dari 16 ribu kasus terkonfirmasi.

Baca Juga

Dokter Penyakit Dalam di Rumah Sakit St Carolus Salemba, Robert Sinto mengatakan, penyakit yang disebabkan oleh virus ini memang bisa menular melalui kontak erat dan cairan. Bahkan kemungkinan bisa menular melalui air susu ibu kepada bayi mereka.

Namun, hal ini masih dilakukan penelitian lebih lanjut. Oleh karenanya, ia meminta kepada ibu yang sedang menyusui sebaiknya tidak memberikan ASI mereka jika terbukti sedang terkena cacar monyet.

"Karena sama-sama melewati aliran darah (seperti yang ditemukan di sperma), virus ini mungkin bisa ditularkan dari ASI. Jadi untuk ibu yang tertular, agar tidak memberikan ASI-nya," kata Robert saat hadir dalam update penyakit Monkeypox yang digelar Kementerian Kesehatan secara daring, Rabu (27/7/2022).

"Dan untuk ASI perah juga tidak boleh, jadi selama menderita cacar monyet lebih baik setop memberi ASI sama sekali," sambungnya.

Ia meminta masyarakat selalu menjaga diri dan berperilaku hidup sehat agar tidak terpapar penyakit ini. Pencegahan bisa dilakukan dengan disiplin protokol kesehatan dan tidak melakukan kontak erat atau kontak langsung dengan penderita.

"Meskipun sampai saat ini tidak ditemukan di Indonesia, pencegahan tetap penting dilakukan. Dimulai dari diri sendiri dengan selalu taat protokol kesehatan," kata dia.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Mohammad Syahril mengungkapkan gejala khas yang bisa terlihat jika seseorang terinfeksi cacar monyet. Syahril mengatakan, masa inkubasi cacar monyet berlangsung 5-13 hari atau 5-21 hari dengan dua periode.

Pertama, masa inkubasi (0-5) hari memiliki gejala demam tinggi diikuti dengan sefalgia berat (nyeri kepala), limfadenopati, myalgia (nyeri otot), dan astenia (kekurangan energi). Kedua, masa erupsi (1-3) hari pasca demam terjadi ruam pada kulit.

Ruam 95 persen berada di wajah, telapak tangan, dan kaki 75 persen. Mukosa 20 persen, alat kelamin 30 persen, selaput lendir mata 20 persen.

"Kalau ditanya gejala yang khas dari cacar monyet ini ada demam tinggi di atas 38 derajat celcius. Lalu merasakan sakit kepala yang berat. Juga ada limfadenopati yaitu benjolan di leher, ketiak, ataupun di selangkangan," kata Syahril.

Syahril memastikan, hingga kini kasus monkeypox di Indonesia masih belum ada. Namun, sebelumnya ada 9 kasus dugaan yang kemudian dilakukan tes dan hasilnya negatif monkeypox.

"Situasi di Indonesia Alhamdulillah dari pertama kali ada Inggris diumumkan itu sampai dengan hari ini, kita belum ada kasus-kasus. Cuma kemarin itu ada 9 kasus yang kita suspek tapi ternyata hasilnya negatif, tidak ditemukan," ujarnya.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr Adityo Susilo mengatakan pada penularan antar manusia diduga dapat terjadi sebagai akibat dari kontak erat dengan pasien yang terinfeksi secara langsung (direct close contact). Caranya melalui paparan terhadap sekresi saluran napas yang terinfeksi, kontak dengan lesi kulit pasien secara langsung, maupun berkontak dengan objek yang telah tercemar oleh cairan tubuh pasien.

Selain itu, lanjut Adityo, transmisi secara vertikal dari ibu ke janin melalui plasental (infeksi cacar monyet kongenital) juga dimungkinkan. Periode inkubasi cacar monyet berkisar antara 5-21 hari dengan rerata 6-16 hari. Setelah melewati fase inkubasi, pasien akan mengalami gejala klinis berupa demam tinggi dengan nyeri kepala hebat, limfadenopati, nyeri punggung, nyeri otot dan rasa lemah yang prominen.

Dalam 1-3 hari setelah demam muncul, pasien akan mendapati bercak-bercak pada kulit, dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Bercak tersebut terutama akan ditemukan pada wajah, telapak tangan dan telapak kaki. Seiring waktu bercak akan berubah menjadi lesi kulit makulopapuler, vesikel dan pustule yang dalam 10 hari akan berubah menjadi koreng.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement