Ahad 24 Jul 2022 13:26 WIB

Koalisi Peduli Anak Tasikmalaya: Perundungan Jangan Dinormalisasi

Banyak orang cuek ketika melihat anak menjadi korban perundungan.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Reiny Dwinanda
Koalisi Peduli Anak Tasikmalaya menggelar kampanye anti-bullying di Taman Kota Tasikmalaya, Ahad (24/7/2022). 
Foto: Republika/Bayu Adji P
Koalisi Peduli Anak Tasikmalaya menggelar kampanye anti-bullying di Taman Kota Tasikmalaya, Ahad (24/7/2022). 

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Puluhan orang yang tergabung dalam Koalisi Peduli Anak Indonesia (KPAT) menggelar kampanye anti-bullying atau perundungan di Taman Kota Tasikmalaya, Ahad (24/7/2022). Mereka mengingatkan bahwa asus perundungan, terutama kepada anak, merupakan hal yang tak bisa dinormalisasi.

Koordinator KPAT, Ipa Zumrotul Falihah, mengatakan, kasus perundungan yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya yang saat ini mencuat sudah sangat meresahkan. Namun, menurut dia, kasus perundungan yang memaksa, merekam, dan menyebarkan video seorang anak menyetubuhi kucing bukanlah yang pertama.

Baca Juga

Ipa menyebut, sebelum peristiwa kematian korban perundungan itu terungkap, kasus bullying sudah sering terjadi. Ironisnya, ia menyebutkan, berdasarkan sebuah studi, 80 persen orang yang melihat kasus perundungan itu cenderung cuek.

"Padahal, ada di sekitar mereka," kata dia.

Ipa menilai, sikap cuek kebanyakan orang itu disebabkan adanya normalisasi terhadap perundungan. Padahal, perundungan dapat menyebabkan luka batin kepada anak-anak.

Selain itu, menurut Ipa, masih banyak orang tua yang tidak secara sadar maupun tidak telah merundung anaknya. Alhasil, perundungan itu menjadi sebuah kebiasaan.

"Misalnya orang tua menyebut anak lelet (lambat), budak bedegong (keras kepala), atau teu nurut ka kolot jadi weh belet (tak nurut ke orang tua jadi bodoh). Itu kan menjadi afirmasi yang akan masuk ke alam bawah sadar anak," kata kata perempuan yang juga merupakan Direktur Taman Jingga, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus kepada isu perempuan dan anak di Kota Tasikmalaya.

Karena itu, pihaknya ingin mengajak seluruh masyarakat agar dapat menyetop perundungan yang biasa terjadi. Jika tidak, perundungan itu akan terus terjadi menjadi lingkaran setan.

"Karena pelaku bullying rata-rata adalah korban di masa lalu. Kalau itu tidak diputus, perundungan akan terus dinormalisasi," kata dia.

Ipa juga menyoroti aktivitas di media sosial yang dapat memicu anak melakukan perundungan. Pasalnya, perundungan tak hanya terjadi di dunia nyata, melainkan juga di dunia maya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement