Rabu 20 Jul 2022 17:27 WIB

Kunjungan Wisatawan di Bantul Sempat Turun Akibat Abrasi

Adanya abrasi air laut di kawasan pantai selatan merupakan siklus tahunan.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Warung semi permanen yang tersisa pascagelombang tinggi di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta, Selasa (19/7/2022). Sri Sultan Hamengkubuwono X memantau imbas gelombang tinggi yang menerjang Pantai Depok pada akhir pekan lalu. Beberapa warung semi permanen yang berada di bibir pantai rusak dihempas ombak.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Warung semi permanen yang tersisa pascagelombang tinggi di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta, Selasa (19/7/2022). Sri Sultan Hamengkubuwono X memantau imbas gelombang tinggi yang menerjang Pantai Depok pada akhir pekan lalu. Beberapa warung semi permanen yang berada di bibir pantai rusak dihempas ombak.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Kunjungan wisatawan ke kawasan Pantai Selatan di Kabupaten Bantul, DIY, meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul menyebut, peningkatan kunjungan bahkan mendekati normal sebelum pandemi Covid-19.

Terlebih usai Lebaran Haji 2022 dan masa libur sekolah yang peningkatannya cukup signifikan di masa pandemi Covid-19 ini. Namun, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Kwintarto Heru Prabowo mengatakan, kunjungan wisatawan ini sempat turun saat abrasi air laut atau gelombang tinggi yang terjadi akhir pekan kemarin di Pantai Depok.

"Hari Raya (Idul Adha) sampai pekan lalu pada Jumat itu masih relatif mendekati atau dikatakan normal sebelum pandemi. Hanya ketika Sabtu ada abrasi, lalu ter-blow up cukup besar, sehingga mulai Sabtu mulai terjadi penurunan wisatawan untuk di kawasan pantai selatan," kata Kwintarto kepada Republika.co.id, Rabu 20/7/2022).

Meskipun begitu, Kwintarto menyebut, abrasi tersebut masih aman dan terkendali. Ia menyebut, tidak ada kerusakan pada bangunan permanen dan hanya ada kerusakan pada lapak-lapak pedagang yang berada di sekitar pantai.

"Padahal itu sebenarnya kalau bagi kami dan teman-teman di lapangan insya Allah tidak berisiko, karena abrasinya masih dalam ambang batas yang memungkinkan terkendali," ujarnya.

Kwintarto menjelaskan, saat tidak terjadi abrasi, kunjungan wisatawan di kawasan pantai selatan mencapai lima ribu sampai sembilan ribu pengunjung pada Sabtu. Sedangkan, pada Ahad mencapai sekitar 10-15 ribu pengunjung.

Angka kunjungan ini sudah naik, namun belum di atas sebelum masa pandemi Covid-19. Di tahun sebelum masa pandemi, katanya, tiap akhir pekan kunjungan wisatawan dapat mencapai 24 ribu sampai 27 ribu hanya dalam satu hari. "Kunjungan terbesar masih di Pantai Parangtritis," jelas dia.

Sementara itu, pada hari biasa (weekdays), kunjungan wisatawan mencapai empat ribu sampai lima ribu per hari. Jika diakumulasikan dari Senin hingga Jumat, rata-rata kunjungan di tiap pekannya kurang lebih 23 ribu pengunjung.  

Meskipun kunjungan wisatawan di weekdays lebih rendah dibanding weekend, namun justru lebih tinggi jika dibandingkan dengan sebelum pandemi. "Senin sampai Jumat rata-rata empat ribu atau lima ribu masuk di kawasan pantai selatan. Artinya bahwa itu lebih tinggi dari hari biasa sebelum pandemi rata-rata," tambahnya.

Ia menjelaskan, abrasi air laut di kawasan pantai selatan merupakan siklus tahunan. Abrasi ini, katanya biasanya terjadi sekitar dua pekan di tiap Juli dengan titik yang berubah.

"Tahun lalu di kawasan Parangkusumo, tahun sebelumnya di Parangtritis dan tahun ini di Depok, tapi di beberapa pantai kita seperti di Goa Cemara, di Pandansari terjadi abrasi juga, artinya ada beberapa titik yang mengalami abrasi," jelas Kwintarto.

Ia  pun berharap pekan depan kunjungan wisatawan dapat  kembali naik. Dari sisi keselamatan pengunjung, katanya, abrasi yang terjadi masih aman dan terkendali.

"Insya Allah masih terkendali, tapi harus tetap waspada, sehingga perlu nantinya dilakukan penataan untuk masa depan pantai selatan," tegasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement