Senin 11 Jul 2022 03:03 WIB

Listrik Mandiri Rakyat Berdayakan Santri 

Limar telah memasang listrik di 300 ribu rumah di desa terpencil.

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto
Penderma.id berkolaborasi dengan Kang Ujang Koswara untuk mendistribusikan program program kebaikan untuk Indonesia.
Foto: Istimewa
Penderma.id berkolaborasi dengan Kang Ujang Koswara untuk mendistribusikan program program kebaikan untuk Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Berdasarkan data pemerintah, hingga Mei 2021, setidaknya 500 ribu rumah tangga di Indonesia belum memiliki akses listrik. Mayoritas dari mereka tinggal di desa terpencil atau terluar.

Hal ini, yang juga dirasakan oleh orangtua Kang Ujang Koswara di Kampungnya. Pemuda asal Pasirawi, Desa Cisurupan, Garut ini pun, berinisiatif ingin membantu orangtuanya agar rumahnya bisa terang. 

"Saya pun menciptakan lampu agar tidak hanya bermanfaat bagi orangtua, melainkan juga penduduk pelosok yang belum terang rumahnya," ujar Kang Ujang di acara “Coffee Talk : Gathering NGO, penderma.id dan Kang Ujang Koswara (Bapak penerang Bangsa), akhir pekan ini.

Ujang menjelaskan, program Limar dibuat untuk pemberantasan tuna cahaya. Yakni, matanya sehat, tapi di malam hari tak bisa melihat karena tak ada listrik.

"Jadi program Limar ini untuk yag belum masuk listrik PLN agar anak-anak bisa belajar. Limar ini, pakai tenaga matahari diproduksi para santri di mulai pada 2008," katanya.

Karena, kata dia, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang masih gelap belum tersambung PLN terutama di daerah remote area. Masyarakat pun tak ada pilihan karena minyak tanah sudah tidak bisa menjadi bahan baku lampu cempor. 

"Saya mempunyai solusi lampu LED 1 watt sama dengan 10 watt lampu biasa dan usianya 10 tahun. Sejak 2008, lampu ini sudah terpasang di 300 ribu rumah. Ratusan ribu rumah belum ada listrik kami hadir untuk memperkuat program pemerintah membebaskan dari kegelapan," paparnya. 

Lampu ini, kata dia, selain diproduksi santri di pesantren-pesantren yang tersebar di Jabar, juga diproduksi oleh mantan narapidana, preman hijrah. Jadi, para trainer akan mengajarkan pada mereka. Setiap rumah diberi 5 lampu. 

"Kalau habis bisa nge-charge ke panel. Biayanya relatif yang lebih mahal non teknis biaya pengiriman alatnya. Rata-rata disatu titik biayanya Rp 3,5 juta sudah terpasang dan nyala. Tak akan mati kecuali mataharinya hilang," katanya.

Lampu buatannya, kata dia, tidak diciptakan dengan banyak 'teori'. Melainkan hanya didorong oleh keinginan kuat dan desakan dalam diri untuk segera membantu orangtua. Untuk menciptakan lampu yang sangat bermanfaat ini, Kang Ujang hanya bermodalkan informasi dari internet dan ngulik bersama temannya yang kebetulan paham soal listrik.

Kini Limar (Listrik Mandiri Rakyat), sudah menerangi banyak desa di pelosok. Dalam pembuatannya, Limar juga memberdayakan para santri. Kontribusinya yang tidak main-main ini membuat Kang Ujang dikenal sebagai Bapak penerang Bangsa dan sudah diapresiasi oleh banyak pihak termasuk Presiden RI Joko Widodo. 

Kang Ujang bercerita, saat sedang memasang instalasi Limar di suatu daerah, banyak warga bertanya. “Kang Ujang terima kasih banyak atas kebaikannya! Kapan kita bisa bertemu lagi?” 

"Saking sangat tersentuhnya secara emosional melihat kebahagiaan warga, saya hanya bisa menjawab Insya Allah kita bertemu lagi di surga," katanya.

Sementara menurut CEO penderma.id, Khirzan Noe’man, Penderma.id sebagai salah satu NGO di Kota Bandung ingin melanjutkan program mulia Kang Ujang Koswara yaitu limar sebagai solusi dari permasalahan yang ada di pelosok. 

"Penderma.id berkolaborasi dengan Kang Ujang Koswara untuk mendistribusikan program program kebaikan untuk Indonesia," katanya. 

Berita Terkait
Berita Lainnya

Rekomendasi