Kamis 07 Jul 2022 21:56 WIB

Pemprov Lampung: Intensifikasi Tanaman Lada Terus Dilakukan

Salah satu langkah intensifikasi melalui revitalisasi tanaman lada.

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi
Peneliti dari Badan Pengkaji Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung menunjukkan produk turunan olahan lada Lampung di Taman Sains Pertanian Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Jumat (1/7/2022). Wakil Gubernur (Wagub) Lampung Chusnunia Chalim mengatakan pelaksanaan intensifikasi tanaman lada di Lampung terus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan lada hitam di daerah itu.
Foto: ANTARA/Ardiansyah
Peneliti dari Badan Pengkaji Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung menunjukkan produk turunan olahan lada Lampung di Taman Sains Pertanian Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Jumat (1/7/2022). Wakil Gubernur (Wagub) Lampung Chusnunia Chalim mengatakan pelaksanaan intensifikasi tanaman lada di Lampung terus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan lada hitam di daerah itu.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG -- Wakil Gubernur (Wagub) Lampung Chusnunia Chalim mengatakan pelaksanaan intensifikasi tanaman lada di Lampung terus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan lada hitam di daerah itu.

"Kita ingin mengembalikan kejayaan lada hitam Lampung sehingga ada langkah intensifikasi yang terus dilakukan," ujar Chusnunia Chalim, di Bandarlampung, Kamis (7/7/2022). Ia mengatakan salah satu langkah intensifikasi melalui revitalisasi tanaman lada.

Baca Juga

"Jadi ada program revitalisasi tanaman lada yang rusak di daerah sentra lada, seperti di Sukadana, Lampung Timur, agar produktivitas bertambah," katanya.

Hal tersebut, lanjutnya, dilakukan selain untuk meningkatkan produktivitas, juga bertujuan untuk menghasilkan biji lada yang berkualitas. "Memang saat ini sudah ada yang diekspor lada hitam Lampung, tapi nanti akan diintensifkan lagi. Jadi di desa penghasil lada akan fokus menghasilkan lada berkualitas dan bernilai ekspor," ucapnya.

Kepala BPTP Lampung Jekvy Hendramenambahkan dalam mengembalikan kejayaan lada Lampung ada sejumlah hal yang harus diperhatikan, antara lain teknologi pembibitan, pengelolaan air, metode pemupukan, dan pengendalian hama. "Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan lada Lampung, yang pertama teknologi pembenihan. Ini jadi teknologi penting dalam mengantisipasi masalah benih yang tidak berkualitas di masyarakat," ucap Jekvy Hendra.

Selain itu, lanjutnya, perlu pula memperhatikan teknologi tiang panjat, lalu tata kelola air yang baik yang menjadi kunci utama dalam menghadapi musim yang tidak menentu akibat perubahan iklim. "Selanjutnya teknologi pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Ini jadi salah satu faktor penghancur yang sangat besar di lapangan, sebab selalu tanaman lada kalau sakit, identik terkena busuk pangkal batang. Sedangkan ada juga yang terserang penggerek, ini dua hal berbeda kalau busuk pangkal batang ini akibat jamur, kalau penggerek ini akibat hewan," katanya.

Selain itu efisiensi pemupukan dan penggunaan pupuk sesuai jenis dan kondisi tanah, serta teknologi pengolahan agar tidak ada kandungan aflatoksin pada produk lada siap ekspor perlu diperhatikan pula. "Kalau ini bisa digabungkan dan aplikasikan, cara sederhana ini bisa dilakukan untuk mengembangkan lada Lampung," tambahnya.

Luas area lada Lampung saat ini 46.847 hektare dengan produktivitas 0,7 kuintal per hektare dan pada 2022 ditargetkan produksi tumbuh mencapai 15.819 ton.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement