Ahad 12 Jun 2022 16:14 WIB

BKBBN: Tindakan Aborsi Berulang Kali Berbahaya

BKKBN merespons kasus perempuan yang diduga menyimpan tujuh janin hasil aborsinya.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ratna Puspita
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo
Foto: BKKBN
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, tindakan aborsi berulang kali sangat berbahaya, baik untuk jangka pendek maupun panjang. Pernyataan Hasto merespons pengungkapan perempuan berinisial NW di Makassar, Sulawesi Selatan, yang diduga menyimpan setidaknya tujuh janin hasil aborsinya sejak 2012. 

Hasto mengatakan, perbuatan seperti itu dapat mengancam kehidupan sang ibu dan kelangsungan fungsi reproduksinya. "Itu kan dia hanya luck atau keberuntungan saja. Kalau suatu saat tidak beruntung, memaksa rahim untuk dibuka secara paksa itu risikonya adalah pendarahan hebat. Dia hanya beruntung tidak terjadi pendarahan hebat," kata Hasto, Jumat (10/6/2022).

Baca Juga

Ketika terjadi pendarahan hebat, bukan tidak mungkin sang ibu bisa mengalami kematian. Selain pendarahan hebat, hal lain yang dapat terjadi dari tindakan aborsi secara paksa itu adalah terjadinya infeksi pada rahim. 

Ketika infeksisius, kata dia, rahim akan berpotensi untuk rusak fungsi untuk kehamilannya. "Jangka pendek bahayanya seperti itu. Jangka panjangnya itu ketika tidak terjadi kematian, tapi terjadi kerusakan orang itu jadi tidak bisa hamil," jelas dia.

Sebelumnya, polisi mengungkap kasus penyimpnan janin bayi hingga membusuk di botol minum dalam kardus di Makassar. Kepada polisi, kekasih NW mengatakan, NW menggugurkan kandungannya dengan meminum ramuan. 

Perbuatan aborsi tersebut sudah dilakukan sejak 2012 dengan tempat yang berpindah-pindah. Berdasarkan keterangan sementara, NW melakukannya karena malu hamil di luar nikah.

 

Edukasi seks

Pada kesempatan itu, Hasto sepakat, kasus seperti itu terjadi karena minimnya edukasi tentang seks di Indonesia. Menurut dia, edukasi tentang seks kerap dianggap tabu. 

Edukasi tentang seks dipandang hanya sebagai pelajaran tentang berhubungan seksual belaka. Padahal, pendidikan seks tidak hanya soal itu.

"Bagaimana tentang risiko-risiko yang terjadi seandainya kita punya perilaku-perilaku yang menyimpang atau seandainya kita ketemu dengan penyakit-penyakit tertentu atau gangguan reproduksi tertentu. Sebenarnya itu. Sayang, kita belum memahami itu," kata Hasto.

Untuk itu, kata dia, pemberian edukasi atau pendidikan tentang seks dan reproduksi perlu diperjuangkan lebih lanjut ke depan. Hasto mengatakan, jika perlu pendidikan seks dan reproduksi dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. 

Paling tidak, hal itu dapat dijadikan sebagai ekstrakurikuler wajib seperti pramuka. "Menurut saya sudah waktunya lah karena penting itu. Jadi kita itu sering kurang memperhatikan hal-hal yang seperti itu. Kita sibuk berdiskusi dan berdebat tentang dampaknya. Tapi sebetulnya underlined problemnya kan di situ sebetulnya," tutur Hasto.

Di sisi lain, Hasto juga menyampaikan, BKKBN sudah membuat Tim Pendamping Keluarga yang berjumlah hingga 600.000. Tim tersebut kata dia, sebenarnya dibentuk dalam rangka mencegah stunting. Tapi dia berharap, ketika orang yang hendak hamil dan yang hamil ini teradat dengan baik oleh tim pendamping keluarga di wilayahnya maka semua orang hamil terdampingi.

"Harapan saya dengan cara demikian maka terayomi juga mereka yang ingin curhat-curhat itu saya kira bisa disampaikan ke Tim Pendamping Keluarga ini. Hanya sekali lagi, mereka yang sudah punya niat yang tidak baik untuk melakukan aborsi itu kan pada umumnya mereka tidak mau curhat. Mungkin sembunyi-sembunyi," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement