Kamis 12 May 2022 12:53 WIB

Warga Malang Waswas Wabah PMK pada Hewan Ternak

Pakar menyatakan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan PMK.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Ilham Tirta
Pemerintah Daerah meningkatkan pengawasan sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di daerahnya.
Foto: Republika/Bowo Pribadi
Pemerintah Daerah meningkatkan pengawasan sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di daerahnya.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Keberadaan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak telah menimbulkan rasa was-was di masyarakat. Salah satunya turut dirasakan warga Kabupaten Malang, Pipit Anggraini.

Pipit mengaku cukup kepikiran mengenai merebaknya wabah PMK setelah membaca beberapa berita. Apalagi, kasus tersebut ditemukan di sejumlah wilayah di Jawa Timur (Jatim). "Saya akui sempat was-was dan khawatir," kata Pipit kepada Republika.co.id, Kamis (12/5/2022).

Baca Juga

Untuk menghilangkan rasa tersebut, Pipit pun mulai mencari data lain mengenai bahaya atau tidaknya mengonsumsi daging atau susu dari hewan yang terpapar PMK. Hasilnya, dia menemukan keterangan dari pakar kesehatan hewan Universitas Brawijaya (UB). Pakar tersebut menyebutkan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan PMK.

Berdasarkan keterangan pakar di UB, daging atau susu sapi masih bisa dikonsumsi selama memasaknya dengan benar. Virus yang menyebabkan PMK bisa mati di suhu tertentu sehingga aman dikonsumsi. "Terus, pakar dari beberapa aku googling juga menyebutkan kalau penyakitnya tidak menular ke manusia," kata perempuan berhijab ini.

Meskipun sudah menemukan banyak data, Pipit tak menampik masih merasa agak was-was. Dia khawatir jika hendak mengonsumsi daging sapi di luar rumah. Sebab itu, Pipit lebih menyukai mengonsumsi daging di rumah karena proses memasaknya bisa diamati dengan baik.

Ribuan ternak di Jawa Timur terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK). PMK merupakan penyakit hewan menular karena serangan virus ke ternak seperti sapi, kerbau, kambing, kuda, dan babi. Namun, penyakit ini tak menular ke manusia.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat agar tak khawatir terhadap penularan penyakit mulut dan kuku pada hewan. Penularan penyakit ini jarang terjadi ke manusia seperti halnya virus SARS-Cov 2 yang berasal dari kelelawar ke manusia serta penyakit flu babi dan flu burung yang bisa meloncat ke manusia.

Menkes menyebut telah berdiskusi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Kesehatan Hewan Dunia terkait penyakit mulut dan kuku pada hewan ini. “Khusus untuk mulut dan kuku, virus ini memang adanya hanya di hewan yang berkuku. Sangat jarang yang loncat ke manusia. Jadi tidak perlu khawatir dari sisi kesehatan manusianya,” kata Budi saat keterangan pers bersama Menteri Kabinet Indonesia Maju di Kantor Presiden, Senin (9/5/2022).

Menurutnya, penyakit ini memang sangat menular pada hewan. Namun, ia memastikan penyakit ini jarang menular ke manusia. Pada manusia sendiri juga terdapat penyakit kaki, mulut, dan tangan. Namun, penyakit ini berbeda dengan penyakit yang muncul pada hewan. Selain itu, penyakit ini biasanya menyerang pada anak-anak dan masih tergolong ringan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement