Kamis 05 May 2022 10:24 WIB

Sukamta Sambangi Dadakan Warga Miskin pada Malam Takbiran

Langkah Sukamta layak diapresiasi.

Bupati Tanah Laut, H. Sukamta (baju putih) mengunjungi sejumlah warga kurang mampu saat malam takbiran.
Foto: istimewa/doc humas
Bupati Tanah Laut, H. Sukamta (baju putih) mengunjungi sejumlah warga kurang mampu saat malam takbiran.

REPUBLIKA.CO.ID, TANAH LAUT — Kegiatan spontan Bupati Tanah Laut, H. Sukamta bersama istri, Hj. Nurul Hikmah  mengunjungi sejumlah warga kurang mampu saat malam takbiran sangat layak diapresiasi. Apa yang dilakukan salah satu kepala daerah di wilayah Kalimantan Selatan itu selain mulia juga  layak dicontoh para kepala daerah lain.

Demikian disampaikan peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Toto Izul Fatah kepada pers di Jakarta, Selasa (3/5). Ia merespon kegiatan Bupati Sukamta yang membuat sejumlah warga yang dikunjunginya mengaku sangat terharu hingga meneteskan air matanya.

Menurut Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA itu, Sukamta telah memberi contoh yang baik buat para kepala daerah yang lain dalam menunjukkan sekaligus membuktikan tingginya kepekaan sosial seorang pemimpin terhadap nasib warganya.

"Saya menangkap pesan kuat, bahwa Pak Sukamta memang contoh pemimpin masa depan yang punya sensitivitas tinggi. Beliau keliling kampung saat gema takbir berkumandang dimana-mana, karena tak ingin membiarkan ada warganya yang, mungkin, pada malam takbiran itu tak punya beras atau tak punya sesuatu yang bisa dimasak," katanya.

Dalam pandangan Toto, Sukamta contoh pemimpin yang mampu memberi makna Takbiran dalam arti yang lebih luas. Takbir tak hanya berhenti pada ungkapan lisan berupa kalimat Allahu Akbar dan seterusnya, tapi lebih dari itu dimaknai juga sebagai ungkapan kepekaan sosial terhadap nasib sesama, baik saudara, tetangga atau warga yang sedang kurang beruntung.

Pada malam takbiran, beberapa hari lalu, Sukamta bersama istri tiba-tiba sudah berada di sejumlah rumah warga yang kurang mampu pada tengah malam jelang lebaran besoknya. Karena kunjungannya mendadak tanpa protokoler,  sejumlah warga yang dikunjungi mengaku sangat terharu. Bahkan, ada warga yang langsung memeluknya tanpa canggung saat tahu bahwa pasangan suami istri yang datang ke rumahnya itu ternyata bupati dan istrinya.

"Ya Allah... saya senang luar biasa. Dan saya seperti dalam mimpi, ternyata orang yang mengetuk pintu malam-malam itu adalah Pak Bupati dan istrinya. Saya hampir tak sadar begitu tahu itu Pak Bupati,” kata salah satu warga,  Siti Rohimah (80 th). 

Respon yang sama juga diungkapkan Adlan. Dengan nada bicara yang terbata-bata,  karena sakit, pria berusia 70 tahun dan sedang sakit-sakitan itu seolah tak percaya, kalau orang yang datang itu ternyata orang nomor satu di Tanah Laut. "Masya Allah...Ini Pak Bupati? Kok mau datang ke gubuk saya malam-malam begini. Buat saya, inilah pemimpin yang sebenarnya," katanya.

Ekspresi yang  kurang lebih sama diperlihatkan Azkia Ariani (20 th) dengan lima saudaranya yang masih kecil menjadi  yatim piatu karena ditinggal ayahnya meninggal beberapa bulan lalu. Mereka langsung menangis haru saat Sukamta bersama istri tiba-tiba sudah berada di depan rumahnya.

Azkia juga mengaku hampir tak percaya jika pria sederhana yang datang itu adalah bupati. "Saya sempat tak percaya, apa betul itu Pak Bupati Sukamta dan istri. Setelah beliau memperkenalkan diri, saya kaget bercampur gembira, karena Pak Bupati juga datang dengan membawa sembako. Beliau seperti tahu, kalau pada malam takbiran itu kami di rumah memang sedang membutuhkan itu untuk dimasak," ungkap Azkia.

Sambil mencium tangan Sukamta, Azkia pun tampak spontan berdoa, agar Tanah Laut ke depan terus dipimpin oleh orang-orang baik yang merakyat dan peduli seperti beliau. "Pak Bupati, saya senang punya pemimpin seperti Bapak. Saya mewakili adik-adik saya yang sudah menjadi yatim piatu mendoakan Bapak, semoga Bapak nanti bisa menjadi pemimpin yang lebih tinggi dari hari ini. Misalnya menjadi gubernur dan seterusnya," katanya.

Sementara itu, Sukamta yang ditemui usai kunjungan mengatakan kepada pers, bahwa apa yang dilakukannya tak lebih dari perwujudan nyata kecintaan dirinya kepada warganya. "Saya merasa tidak sempurna dan bahkan tidak akan bisa tidur jika ada warga saya yang tak punya beras atau sesuatu yang bisa dimasak malam takbiran yang besoknya lebaran," tegasnya.

Menurut Sukamta, sesuai pemahaman umum selama ini, bahwa hari raya idul fitri itu merupakan hari kemenangan umat Islam setelah selama kurang lebih satu bulan lulus menjalani ibadah puasa. Sebagai hari kemenangan, maka yang harus menang itu bukan hanya umat Islam yang berkecukupan saja. Tapi mereka yang kebetulan pada malam idul fitri itu sedang kurang beruntung hingga tak punya sesuatu yang harus dimasak, juga harus merasakan kemenangan, dengan cari semangat berbagi kepada sesama.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement