Rabu 23 Mar 2022 08:50 WIB

Harga Daging Sapi Mahal, Pakar Unair Ungkap Penyebabnya

Faktor kebijakan Australia hingga penyakit sapi mempengaruhi harga daging

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Nur Aini
Pedagang menjual daging sapi segar di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Rabu (16/3/2022). Pakar Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Budi Utomo berpendapat, meroketnya harga daging sapi di Indonesia dipicu faktor kebijakan Australia yang mengurangi ekspor sapi bakalan (sapi hidup) ke Indonesia karena masih dalam pemulihan populasi.
Foto: Republika/Bayu Adji P
Pedagang menjual daging sapi segar di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Rabu (16/3/2022). Pakar Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Budi Utomo berpendapat, meroketnya harga daging sapi di Indonesia dipicu faktor kebijakan Australia yang mengurangi ekspor sapi bakalan (sapi hidup) ke Indonesia karena masih dalam pemulihan populasi.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pakar Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Budi Utomo berpendapat, meroketnya harga daging sapi di Indonesia dipicu faktor kebijakan Australia yang mengurangi ekspor sapi bakalan (sapi hidup) ke Indonesia karena masih dalam pemulihan populasi. Sementara, sapi di Indonesia sedang terserang wabah Lumpy Skin Disease (LSD).

“Penyakit itu ditemukan di Provinsi Riau, yang sebelumnya terjadi di negara Asia termasuk Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, dan Kamboja,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Unair tersebut, Rabu (23/3).

Baca Juga

Budi menjelaskan lebih jauh terkait tanda klinis Lumpy Skin Disease yang menurutnya bermacam-macam. Di antaranya, lesi kulit, demam, pengurangan nafsu makan, hingga kematian pada sapi. Penularannya melalui vektor serangga (nyamuk dan kutu) sehingga sangat rentan menyerang ternak lain. 

“Jangan sampai vektor penyakit ini terikut oleh kendaraan pengangkut ternak. Utamanya kapal ternak yang dipakai buat mengangkut ternak dari dan ke Australia,” ujarnya.

 

Di samping itu, ketidakcukupan daging sapi juga karena kurangnya pengetahuan peternak dan inseminator. Ketersediaan indukan sapi memang masih banyak.maka dari itu, inseminasi buatan atau kawin suntik juga harus digencarkan untuk memperbanyak anakan.

Apalagi pemerinta memiliki komitmen mendongkrak populasi sapi di Indonesia melalui Program Upaya Khusus Sapi Induk Wajib bunting (UPSUS SIWAB). Budi menilai, program tersebut belum berjalan lancar. Menurutnya, masih banyak yang mengalami gangguan reproduksi. 

Budi menyebut gangguan reproduksi yang kerap terjadi yaitu hipofungsi ovarium. Artinya, suatu kejadian ovarium mengalami penurunan fungsi sehingga tidak dapat terjadi ovulasi. 

“Hipofungsi menyebabkan tidak terjadinya ovulasi sehingga berahi tidak terjadi dan ujungnya ternak tidak dapat menghasilkan pedet (anakan sapi)’’ kata Budi.

Budi pun berharap adanya upaya peningkatan kewaspadaan. Seperti halnya memperketat biosecurity yakni tindakan pertahanan pertama, pencegahan, dan pengendalian masuknya wabah agar aman.

“Terutama bagi negara-negara yang terdeteksi penyakit lumpy skin maupun negara-negara sekitarnya. Selain itu juga memperketat rantai pasar yang sangat panjang dari peternak hingga konsumen akhir,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement