Sabtu 05 Mar 2022 03:59 WIB

Antisipasi Dampak Letusan Semeru, ITS Pasang Early Warning System

EWS yang dipasang dihubungkan dengan pos pantau relawan Paguyuban REKG.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Agus Yulianto
Petani memupuk tanaman cabai merah dengan latar belakang Gunung Semeru di Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (12/2/2022). Para petani setempat mulai menggarap lahan mereka pascabencana awan panas guguran Gunung Semeru yang terjadi dua bulan lalu.
Foto: Antara/Seno
Petani memupuk tanaman cabai merah dengan latar belakang Gunung Semeru di Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (12/2/2022). Para petani setempat mulai menggarap lahan mereka pascabencana awan panas guguran Gunung Semeru yang terjadi dua bulan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kompartemen Kebencanaan Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (KK IKA ITS) melakukan pemasangan peralatan Early Warning System (EWS) di Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Kasubdit Pengembangan Kemahasiswaan ITS Yeyes Mulyadi menjelaskan, pemasangan EWS sebagai upaya mengantisipasi letusan Gunung Semeru.

Selain pemasangan, kata dia, dilakukan juga sosialisasi kepada masyarakat sekitar akan keberadaan dan arti pentingnya EWS. “EWS merupakan upaya yang dilakukan sebagai peringatan dini bahaya erupsi, banjir lahar, maupun awan panas guguran dari hulu aliran sungai Curah Kobokan di kawasan Supiturang,” kata Yeyes, Jumat (4/3).

Yeyes menjelaskan, perangkat tersebut terdiri dari satu tower yang memuat dua sirine berkekuatan 120 dB catu daya mandiri, inverter, remote control, dan perangkat sistem yang terhubung dengan pos pemantauan. 

Dewan Pakar KK IKA ITS Ginanjar Yoni Wardoyo menjelaskan, EWS yang dipasang dihubungkan dengan pos pantau relawan Paguyuban Relawan lokal Kaki Gunung Semeru (REKG). Selain itu juga terhubung dengan perangkat EWS yang dibangun oleh jaringan relawan sebelumnya yang telah memasang CCTV dari beberapa titik pantau.

“Mereka pun telah membuat aplikasi pemantauan kondisi secara real time dan dapat diunduh di playstore dengan nama aplikasi JaGa Semeru,” ujarnya.

Pemasangan EWS di delta sungai Curah Kobokan ini merupakan hal yang sangat penting untuk melindungi masyarakat serta pekerja yang mulai melakukan penambangan. Apalagi, kawasan tersebut dijadikan jalur alternatif satu-satunya untuk transportasi ke arah Malang.

“Dengan dua sirine hingga radius 500 meter itu cukup untuk memberikan peringatan dini apabila ada bahaya yang meluncur dari hulu sungai yang bermuara ke kawasan guguran erupsi Semeru,” kata dia.

Pemasangan EWS berupa sirine diharapkan dapat menjadi pilot project yang bisa diduplikasi oleh siapa saja di daerah bencana mana saja. EWS yang dipasang diakuinya akan terus disempurnakan serta dikembangkan dengan teknologi sensor yang secara otomatis akan memicu sirine pada saat datang bahaya banjir dan atau awan panas guguran dari hulu atau puncak Gunung Semeru.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement