Jumat 04 Mar 2022 00:09 WIB

Kasus Kematian Akibat Covid-19 di Tasikmalaya Terus Meningkat

Sudah ada 32 orang meninggal dunia akibat Covid-19 sejak awal Januari 2022.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Friska Yolandha
Anggota Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tasikmalaya menyemprotkan cairan disinfektan di selasar SMA Negeri 8 Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (21/10/2021). Kasus kematian akibat Covid-19 di Kota Tasikmalaya terus mengalami peningkatan.
Foto: Antara/Adeng Bustami
Anggota Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tasikmalaya menyemprotkan cairan disinfektan di selasar SMA Negeri 8 Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (21/10/2021). Kasus kematian akibat Covid-19 di Kota Tasikmalaya terus mengalami peningkatan.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Kasus kematian akibat Covid-19 di Kota Tasikmalaya terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya per 3 Maret 2022, dalam sehari terakhir ada satu kasus kematian baru akibat terpapar Covid-19.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra, mengatakan, sudah ada 32 orang meninggal dunia akibat Covid-19 sejak awal Januari 2022. Menurut dia, dari total 32 kasus kematian yang ada sejak Januari, mayoritas merupakan warga yang belum menjalani vaksinasi. 

Baca Juga

"Sekitar 60 persen belum divaksin sama sekali," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (3/3/2022).

Asep menambahkan, pasien yang meninggal itu tak seluruhnya dirawat di rumah sakit. Terdapat dua orang pasien Covid-19 yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumahnya masing-masing. 

Ia menyebut, dua pasien yang meninggal saat isoman itu memiliki penyakit penyerta (komorbid) dan bergejala. Menurut dia, tim tenaga kesehatan (nakes) telah menyarankan dua pasien itu untuk dirawat di rumah sakit. Namun, pihak keuarga pasien tidan mengizinkannya. 

"Alasannya, keluarganya tak mau dirawat karena memang kondisi pasien sudah parah. Takut tidak bisa bertemu lagi. Kalau di rumah, keluarga masih bisa nunggu meski pakai masker atau APD," kata dia.

Kendati demikian, ketika pasien meninggal dunia, jenazah diurus dengan sesuai prosedur protokol kesehatan (prokes). Pihak keluarga juga telah menerima jenazah diurus sesuai prokes.

Asep menjelaskan, dari total 32 kasus kematian akibat Covid-19 sejak Januari, sekitar 40 persen berasal dari kalangan lanjut usia. Sementara, sebagian lainnya berasal dari kalangan usia produktif, bahkan ada yang masih bayi.

"Ada juga seorang bayi, berusia 8 bulan, yang meninggal karena Covid-19," kata dia.

Asep menjelaskan, ketika bayi itu datang ke rumah sakit, kondisinya sudah dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuhnya. Setelah dua atau tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit, nyawa bayi itu tidak tertolong.

"Saya pikir tadinya ada komplikasi DBD juga. Namun setelah diperiksa, DBD-nya negatif. Jadi benar-benar dehidrasi karena tidak mau ASI," kata dia.

Secara keseluruhan, total sudah ada 576 kasus kematian akibat terkonfirmasi Covid-19 di daerah itu sejak awal pandemi. Kasus kematian itu berpotensi terus bertambah lantaran pandemi belum berakhir. 

Asep mengatakan, saat ini risiko keparahan pasien yang terpapar Covid-19 memang lebih kecil. Namun, ketika pasien memiliki komorbid dan belum divaksin, potensi bergejala tetap tinggi.

"Intinya harus vaksin, jaga imun, dan jaga prokes (protokol kesehatan)," kata dia.

Apalagi, ia menambahkan, saat ini Kota Tasikmalaya masih menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 3. Hal itu disebabkan cakupan vaksinasi dosis kedua masih belum mencapai target, serta penularan, kasus aktif, dan BOR (bed occupancy rate/tingkat keterisian tempat tidur) di rumah sakit, masih tinggi.

Berdasarkan data per Kamis, terdapat 2.606 kasus aktif di Kota Tasikmalaya, bertambah 310 kasus dari hari sebelumnya. Sementara angka BOR rumah sakit di daerah itu mencapai 54,32 persen. Dari total 278 tempat tidur yang tersedia, sebanyak 151 unit di antaranya telah terisi pasien Covid-19.

"Positivity rate kami juga tinggi, rata-rata per hari 28-30 persen. Padahal testing per hari sudah mencapai 1.000 tes. Itu jadi salah satu penyebab Kota Tasikmalaya masih level 3," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement