Kamis 03 Mar 2022 05:16 WIB

Penjual Daging Sapi di Tambun Bekasi Merugi Sejak Naik Harga

CDC menyebut belum ada bukti bahwa lineage BA.2 lebih berat dibandingkan lineage BA.1

Los daging tampak kosong akibat aksi mogok pedagang daging sapi (ilustrasi)
Foto: Prayogi/Republika
Los daging tampak kosong akibat aksi mogok pedagang daging sapi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, KABUPATEN BEKASI -- Penjual daging sapi di Pasar Tambun Kabupaten Bekasi, Jawa Barat terpaksa menjual rugi dagangannya karena minim pembeli sejak daging sapi mengalami kenaikan harga. Selain merugi mereka juga terancam kehilangan pelanggan tetap lantaran aksi mogok berjualan yang disepakati bersama masih berlangsung hingga Jumat (4/3) sehingga praktis tak ada aktivitas di lapak-lapak penjual.

"Langganan tetap saya layani, saya antarkan, paling banyak lima kilogram, biar mereka tetap beli daging ke kami walaupun tidak ketemu untung," kata penjual daging sapi di Pasar Tambun, Bekasi, Mujianto, Rabu (2/3/2022). 

Baca Juga

Mujianto mengaku terpaksa menjual daging di bawah harga pasar sebab kualitas dagangan yang dijualnya turun lantaran dibekukan. "Kalau daging segar malah tidak laku karena harganya tahu sendiri, minta ampun. Jadi daging yang tidak laku itu terpaksa dibekukan tapi ya harganya turun, dari pada tidak laku," katanya.

Dia mengatakan harga daging sapi segar di tempat pemotongan hewan kini telah mencapai Rp 125 ribu hingga Rp 135 ribu per kilogram. Dengan kenaikan harga itu, pedagang pun terpaksa menjual daging seharga Rp 140 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram.

Lonjakan harga itu, kata dia, mengakibatkan jumlah pembeli menyusut secara signifikan. Alhasil, daging yang telah ia stok tidak terjual hingga terpaksa dibekukan. Mujianto mengatakan membekukan daging yang tidak laku sebenarnya tidak ingin dilakukan oleh para penjual daging sapi. Selain harganya anjlok, kualitas daging juga menurun akibat penyusutan meski keputusan ini lebih baik dilakukan untuk mencegah daging membusuk.

"Paling sekarang sekilo daging beku Rp 100 hingga Rp 110 ribu. Pembeli tidak akan mau kalau harganya lebih dari itu, ya karena sudah tidak segar lagi. Sedangkan kami beli daging segar sudah Rp125-135 ribu. Jadinya ya jual rugi dari pada tidak laku," ucapnya. 

Ia sangat berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi lonjakan harga daging di pasaran sehingga para pedagang sapi tidak terus menerus mengalami kerugian. Pedagang lainnya, Mamat berharap harga daging sapi bisa diturunkan hingga berkisar di bawah Rp 98 ribu per kilogram di tingkat pemasok daging. 

"Sekarang kami modal beli daging saja di atas Rp 100 ribu sekilo. Jadi kalau mau untung terpaksa jual Rp 140 per kilogram tapi risikonya pembeli berkurang," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement