Kamis 10 Feb 2022 17:12 WIB

Siswa dan Guru Positif Covid-19, Dua Sekolah di Cibalong Garut Ditutup

Sebanyaj 13 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dari dua sekolah dasar di Cibalong

Rep: Bayu Adji P/ Red: Nur Aini
Kasus Covid-19 di sekolah selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Ilustrasi
Foto: Republika/Thoudy Badai
Kasus Covid-19 di sekolah selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Belasan siswa dan guru dari dua sekolah di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dilaporkan terkonfirmasi positif Covid-19. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di dua sekolah itu dihentikan untuk sementara waktu.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani, mengatakan, berdasarkan laporan terakhir yang diterimanya, terdapat 13 orang yang terkonfirmasi positif dari dua sekolah dasar di Kecamatan Cibalong itu. Sebanyak delapan orang adalah siswa dan lima orang merupakan guru. 

Baca Juga

"Hari ini masih dilakukan tracing dan testing," kata dia, saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (10/2/2022).

Ia menjelaskan, temuan kasus Covid-19 di lingkungan sekolah itu berawal dari adanya satu orang yang bergejala. Setelah diperiksa dan menjalani pengetesan swab, siswa itu dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

 

Setelah itu, tim survailans melakukan penelusuran kontak erat siswa itu. Hasilnya, ditemukan tambahan kasus di lingkunga keluarga dan sekolah siswa itu.

"Itu cukup banyak menyebarnya. Ke keluarga, tetangga, dan sekolah. Ini masih berkembang terus," kata Leli.

Saat ini, aktivitas PTM di dua sekolah itu dihentikan selama 15 hari. Selama PTM dihentikan, petugas akan terus melakukan penelusuran. Sementara lingkungan sekolah akan disterilisasi.

Menurut Leli, para pasien Covid-19 di wilayah mayoritas tak bergejala atau bergejala ringan. Mereka masih menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing.

"Kita sedang bujuk untuk isolasi ke rusun," kata dia.

Leli mengakui, tempat isolasi terpusat di Rusunawa lokasinya cukup jauh dari Kecamatan Cibalong. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut sebenarnya sudah menyediakan tempat isolasi terpusat di wilayah selatan Garut itu. Namun, persiapan tempat itu untuk digunakan belum selesai. 

Sementara itu, tempat isolasi di RSUD Pameungpeuk hanya untuk menangani pasien yang bergejala sedang hingga berat. Sedangkan untuk membuat tempat isolasi terpusat di kecamatan dirasa kurang efektif.

"Kan harus tetap harus ada pengawasan tenaga kesehatan juga. Kalau terlalu banyak tempat isolasi juga kasihan tenaga kesehatan, mereka juga banyak yang positif. Mangkanya kami bujuk ke rusun, sambil kami persiapkan tempat isolasi di selatan," ujar dia.

Leli menyebutkan, hingga saat ini sudah cukup banyak bermunculan klaster penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah. Setidaknya, sudah ada lebih dari lima klaster sekolah yang muncul di Kabupaten Garut. 

Kendati demikian, ia belum bisa memastikan keberadaan Covid-19 varian omicron di Kabupaten Garut. "Kemarin terakhir kami cek, masih Delta. Lama pemeriksaannya," kata dia.

Meski begitu, ia mengimbau masyarakat agar tetap taat menerapkan protokol kesehatan (prokes). Sebab, kasus Covid-19 di Kabupaten Garut terus mengalami peningkatan. 

Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut per 9 Februari 2022, saat ini terdapat 279 kasus aktif positif Covid-19. Angka itu bertambah 58 kasus dari sehari sebelumnya. Dari total kasus aktif itu, sebanyak 208 orang menjalani isolasi mandiri dan 71 orang isolasi di rumah sakit. 

Baca: Tingkat Keterisian Tempat Tidur RS Covid-19 di Kota Bandung Meroket

Baca: Bandarlampung Aktifkan Kembali Posko Penyekatan Masuk Kota

Baca: 7 Kasus Pemerkosaan Terungkap di Tangerang, Korbannya Bocah Perempuan dan Laki-Laki

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement