Rabu 09 Feb 2022 05:04 WIB

Nasib Pasangan ‘Drama’ Praveen/Melati di Ujung Tanduk?

Tiga turnamen di Eropa pada Maret 2022 akan menjadi ajang pembuktian Praveen/Melati.

Ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti
Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti

Oleh : Bilal Ramadhan, Redaktur Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Pasangan ganda campuran rangking 5 dunia versi BWF, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti sudah diperkirakan bakal didegradasi dari Pelatnas Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Penurunan prestasi dan pola permainan yang tak kunjung matang, menjadi alasan PBSI terpaksa untuk memberi ‘hukuman’ untuk Praveen/Melati.

Pasangan ini kerap digadang-gadang untuk menggantikan perang peraih medali emas Olimpiade 2016, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang telah pensiun beberapa tahun lalu. Publik sempat diberi harapan dengan raihan dua gelar dari Eropa yang ditorehkan Praveen/Melati pada 2019 yaitu di Denmark dan Prancis. Setahun kemudian, Praveen/Melati juga menjuarai All England 2020.

Baca Juga

Namun badai Covid-19 yang melanda seluruh dunia usai digelarnya turnamen bulu tangkis tertua tersebut, ternyata juga mempengaruhi performance pasangan ini. Hingga kini, prestasi Praveen/Melati tak kunjung membaik.

Mereka sempat menembus final di Thailand pada awal 2021, namun Praveen/Melati dikalahkan pasangan tuan rumah Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taeratanachai. Setelah itu, Praveen/Melati nyaris tak berkutik di turnamen setelahnya. Dechapol/Sapsiree Berjaya di tahun 2021 dan sangat memanfaatkan momen ketidakhadiran dua pasangan top Cina.

photo
Melati Daeva Oktavianti (depan) dan Praveen Jordan (belakang) - (AP/Dita Alangkara)

Namun, alih-alih memperbaiki permainan, stamina atau strategi, Praveen/Melati malah ‘sibuk’ dengan drama masalah pribadi yang mereka ciptakan sendiri. Kerap kali di tengah pertandingan, mereka tak berkomunikasi. Bahkan pernah juga tak bertegur sapa. Akibatnya, sudah bisa ditebak, permainan mereka kacau dan jadi mangsa empuk oleh lawan.

Permainan yang buruk dari Praveen/Melati ini bahkan bikin ‘gemes’ pelatihnya, Nova Widianto. Nova sampai menumpahkan kekesalannya kepada para wartawan akibat kekalahan Praveen/Melati di babak pertama turnamen Indonesia Masters 2021 di Bali.

“Itu kan lawannya, bukannya kita ngeremehi, tapi lawannya itu dua level di bawah mereka. Saya rasa mereka nggak ada rasa tanggung jawabnya. Main di kandang sendiri, harusnya rasa nggak mau kalah itu ada,” kata Nova saat itu.

Permasalahan antarindividu di sektor ganda memang tidak bisa dipungkiri. Tontowi/Liliyana pun pernah mengalaminya bahkan saat sebelum Olimpiade 2016 berlangsung. Tapi mereka mampu mengatasinya dan sama-sama menetapkan tujuan untuk meraih medali emas Olimpiade.

photo
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir memastikan posisi di final Olimpiade Rio 2016 nomor ganda campuran. - (Kin Cheung/AP)

Pun begitu dengan pasangan ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Apalagi dengan gap usia yang cukup besar, masalah ego diakui menjadi masalah yang kerap terjadi sejak mereka dipasangkan. Tapi dengan pengalaman dan kematangan Greysia, dan kesabaran Apriyani, ternyata mampu memecahkan rekor dengan medali emas pertama Olimpiade bagi Indonesia di sektor ganda putri. Hal yang dulu dianggap mustahil karena kuatnya Cina, Korea Selatan dan Jepang di sektor ini.

Harusnya, Olimpiade 2016 ini menjadi momen yang pas untuk Praveen/Melati meraih medali. Kematangan usia mereka saat ini seharusnya bisa menjadikan puncak prestasi mereka. Namun ternyata gagal.

Masih ada peluang di Olimpiade 2024? Tentu masih ada. Tapi melihat usia mereka yang sudah berkepala tiga saat Olimpiade tersebut berlangsung, tentu kekuatan dan stamina tak lagi sama. Mungkin benar, smes yang dimiliki Praveen selama ini sangat ditakuti lawan-lawannya. Namun smes dengan kekuatan penuh itu belum tentu kembali ada ketika Praveen berusia 31 tahun nanti.

Begitu pun dengan Melati yang selama ini berkutat dengan masalah tubuh yang dianggap belum proporsional sehingga menghambat geraknya ketika di lapangan. Pada 2024 nanti, Melati akan berusia 30 tahun. Kecepatan ketika di depan net pun akan jauh berkurang.

Tapi gak ada yang gak mungkin. Selama mereka mau berusaha keras dan menyatukan langkah dan tekad serta menimilasir ego masing-masing, mereka pasti akan kembali di top performance mereka. Tapi kalau masih terjadi ‘drama’ di antara mereka, ya jangan terkejut kalau mereka akan semakin jatuh ke titik nadir.

photo
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Rionny Mainaky - (DOK PBSI)

Surat Keputusan PBSI telah diterbitkan pada pekan lalu. Praveen/Melati termasuk di antara pemain yang dikeluarkan dari Pelatnas. Kini mereka kembali bernaung di klubnya yaitu PB Djarum. Di laman PB Djarum pada Senin (1/2/2021) lalu, baik Praveen dan Melati mengatakan sama-sama akan menyatukan tekad untuk kembali meraih prestasi di tiga turnamen di Eropa bulan depan yaitu Jerman Terbuka, All England dan Swiss Terbuka.

“Yang pasti kami akan terus bekerja sama. Soal promosi dan degradasi adalah hal yang biasa di Pelatnas PBSI. Buat kami, semangat berprestasi itu tetap ada," kata Praveen.

"Kami berdua sudah mulai latihan intensif sejak awal tahun bersama tim PB Djarum. Targetnya tahun ini mau naik podium satu lagi di pertandingan apa pun yang kami ikuti,” kata Melati.

Tiga turnamen di Eropa ini menjadi ajang pembuktian bagi Praveen/Melati setelah ‘ditendang’ dari Pelatnas PBSI. Mereka mampu membuktikan untuk membuat PBSI menyesal karena telah membuang mereka atau justru sebaliknya, PBSI makin tertawa melihat prestasi mereka.

Kita lihat saja nanti…

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement