Ahad 12 Dec 2021 09:53 WIB

Kisah Musik Kampungan Bernama Dangdut dan Oma Irama Yang Tak Terbayangkan

renungan eksistensi Oma Irama dalam musik dangdut

Rhoma Irama.
Foto: wikipedia
Rhoma Irama.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Ketika membaca berita bila hari ini Rhoma Irama berulang tahun pikiran ini langsung berputar pada dua hal. Pertama, pada sosok rekan jurnalis Suara Karya, mendiang Kartoyo yang sehari-hari menjejali tentang kisah kiprah Soneta dan 'Haji Oma' dalam perbicangan di press room DPR Senayan. Kedua, pada omongan Kartoyo yang juga sempat menulis biografi si-raja dangdut ini. Selama meliput di DPR, dia bercerita begitu banyak hal dari remeh temeh berupa guyonan hingga hal-hal serius mengenai 'bang haji' dan Sonetanya.

Melalui cerita Kartoyo diketahui betapa berat 'sekaligus' nekad ketika anak tentara kelahiran Tasikmalaya yang dibesarkan di Kawasan Bukit Duri Jakarta itu berusaha menaikkan gengsi musik Melayu. Kelas musik Melayu yang kala itu dianggap pejoratif dengan sebutan musik kelas lampu petromak, musik kampung becek, musik 'mikropon sombok' masjid, hingga musik orang miskin, musik orang tak 'makan bangku sekolah', musik kaum susah di mana ketika sedih pun harus bergoyang dan berbagai hal lainnya, menjadi terpinggirkan.

Kartoyo bicara panjang lebar soal-soal itu. Dia cerita mengenai artis 'anu' yang dari dahulu (awal pediode 1970-an) tak suka Oma Irama pergi ke Singapura untuk mewakili Indonesia dalam sebuah festival musik. Si artis itu lebih menginginkan Broery Pesolima yang pergi. Tapi untunglah Oma Irama yang juga mengidolakan Broery kemudian pulang dengan menggondol juara pertama.

''Nah, dari kisah ini kalian tahu faktor lain di balik munculnya kasus heboh goyang ngebor Inul Daratista dahulu kan?,'' tukas Kartoyo kala itu. Dia juga tak lupa bercerita mengenai latar belakang munculnya lagu Oma Irama 'Musik' yang berisi gugatan atas adanya pengkastaan musik. Tak lupa Kartoyo menyebut sosok penyanyi yang mana yang kala itu getol ingin menghapusan musik.''Atas perakatan si-penyanyi top itu, maka keluarlah lirik dalam lagu berjudul 'Musik' itu: Kalau yang tak suka minggir.

Kartoyo memang begitu dekat dengan 'bang haji'. Kartoyo pun sangat bangga dengan dia serta tulisan biografi bertajul 'Raja Dangdut' itu.''Yang saya terkesan ketika menulis buku itu adalah ketika wawancara Iwan Fals. Iwan mengatakan lagu 'Begadang' itu sama terkenalnya di Indonesia dengan Indonesia Raya. Semua orang tahu dan bisa menyanyikan,'' ujarnya lagi.

Sama dengan Kartoyo, politisi senior dan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, belakangan sempat menceritakan asal usul munculnya frase 'yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Kata Ridwan: kata itu muncul dari omongan pidato seorang dia dalam kampanye PPP tahun 1982. Oma waktu sempat izin memakai kalimat itu untuk lagunya.

"Habis kampanya yang dihadiri sampai 500 ribu orang itu, dia telepon saya minta pakai izin pakai yel-yel itu. Saya jawab 'tafadhal' Ji. Beberapa waktu kemudian lagu dengan yel-yel itu ke luar. Masyarakat antusias tapi rezim Orde Baru gerah. Oma makin dicekal kiri-kanan,'' kata Ridwan Saidi.

photo
Ridwan Saidi dan Rhoma Irama berjalan bersama massa kampanye PPP di Serang pada tahun 1982. - (Ridwan Saidi)
 
 
 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement