Rabu 24 Nov 2021 08:16 WIB

Begini Cara Orang Jawa Menilai Sosok Orang Tua dan Pemimpin

Jangan sampai menjadi orang tua dan pemimpin yang Tuwa Tuwas

Fatmawati disaksikan Bung Karno sungkem Jepara Abu mertua (Ibunda Soekarno).
Foto: Istimewa
Fatmawati disaksikan Bung Karno sungkem Jepara Abu mertua (Ibunda Soekarno).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Achmad Charris Zubair, Purna Tugas Dosen Filsafat UGM dan Anggota Paguyuban Penulis Satu Pena

Dalam tradisi, literasi dan kultural Jawa, ada tiga  kosakata untuk menunjuk secara denotatif orang tua yang pantas dihormati dan bahkan dalam hal tertentu wajib ditaati. 

Yang pertama adalah 'Tuwa Tuwuh" yang artinya orang yang lebih dahulu dilahirkan daripada kita. Orang yang angka usianya lebih tua daripada kita. Kita pantas hormat kepada mereka, bisa orang lain atau masih kerabat, termasuk dalam hal ini orang tua kita sendiri. Kalau kita ingin bertemu, kita gunakan kata "sowan" untuk meminta nasehat, doa restu atau apapun bentuknya. Kenapa harus kita hormati, karena usia lebih tua memiliki pemahaman, penghayatan atas kehidupan ini. Apalagi terhadap orang tua yang menjadi lantaran kita lahir ke dunia. Dengan menghormatinya menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang tahu diri, berendah hati. Sekalipun ia sedang berkedudukan tinggi terhadap ibu kandung atau mertua tetap harus sowan.

Yang kedua adalah "Tuwa Kawruh" yang artinya orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan lebih tinggi, lebih dalam, lebih luas daripada kita. Atau orang yang memiliki pengetahuan yang berbeda dengan kita yang kita tidak tahu, dan kita ingin belajar untuk mengetahuinya. Ini meliputi semua orang, tak tergantung usia. Bisa saja ia lebih muda usia tapi lebih memiliki ilmu pengetahuan. Tak ada salahnya "Kebo nusu gudèl". Kita hormat pada mereka termasuk hormat pada guru-guru kita karena merekalah yang membuat hidup ini bermakna. 

Yang ketiga adalah "Tuwa Apuh" atau yang sering dikenal dengan "awu"ne luwih tua. Anak-anak pakde (Kakak orang tua) kita yang lebih muda usia di masyarakat Jawa kita panggil dengan kakang mbakyu. Juga dalam hal ini yang secara kekerabatan memiliki "awu" lebih tua. Tuwa Apuh bisa diperluas kepada pemimpin dalam struktur masyarakat di mana kita berada di dalamnya. Bisa kepala kantor, kepala sekolah, dekan, rektor dan seterusnya. Mulai dari pak RT, pak RW, pak lurah, camat, bupati, gubernur sampai presiden dan atau raja.

Kepada mereka kendatipun usianya jauh lebih muda kita harus menghormati kedudukan "kaprajan" (pemerintahan) mereka. Kitalah yang sowan kepada mereka dan kalau mereka datang kepada kita itu adalah kanugrahan kadya siniram banyu bening sewindu (seperti mendapat anugerah tubuh disiram air yang disimpan selama delapan tahun) 'mak nyess'. Tak pantas kita mentang-mentang lebih tua usia memaksa mereka untuk menemui kita. Kita yang mesti sowan bukan kita yang minta didatangi. Kita hormati golongan "tuwa apuh" justru untuk menunjukkan kita adalah manusia yang bermartabat.

Tapi dalam tradisi literasi dan kultural Jawa ada golongan tua yang tak pantas dihormati. Yaitu "Tuwa Tuwas", orang tua yang tak tahu diri atas usia, tak tahu diri atas kebodohannya, tak tahu diri atas keangkuhannya, tak bijak dalam tutur kata dan laku kehidupannya. Padahal apa yg dilakukan di usia senjanya tak punya kontribusi apapun juga bagi masyarakat luas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement