Sabtu 30 Oct 2021 08:50 WIB

Mahfud MD Ajak Ulama Jaga Negara

Ulama dan kaum santri memiliki peran yang cukup penting dalam memerdekaan Indonesia.

Rep: Flori Sidebang/ Red: Agus Yulianto
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD.
Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan, ulama dan kaum santri memiliki peran yang cukup penting dalam memerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Oleh karena itu, dia mengajak, pimpinan pondok pesantren yang hadir dalam dialog virtual tersebut, ikut menjaga negara dari ancaman ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang 1945.

Hal itu Mahfud sampaikan dalam dialog virtual dengan 250 lebih pimpinan Pondok Pesantren di seluruh Indonesia, dalam rangka Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober lalu, pada Jumat (29/10) malam. "Kaum santri-santri lah yang ikut mendorong secara habis-habisan memerdekakan bangsa ini," kata Mahfud dalam keterangannya, Sabtu (30/10).

Mahfud menuturkan, tanpa mengesampingkan peran tokoh agama lainnya, kemerdekaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah warisan para ulama, tokoh-tokoh Islam dari berbagai latar belakang suku dan ormas Islam yang berbeda. 

"Umat Islam waktu itu sekitar 87 persen dengan 70 juta penduduk pada tahun 1945. Tapi waktu itu, demi kemerdekaan, demi kebersamaan disetujui kata 'kewajiban menjalankan sayariat Islam bagi pemeluknya' diganti dengan 'Ketuhanan yang Maha Esa'," tutur dia yang bercerita terkait kesepakatan di dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) saat itu.

 

Pascakemerdekaan bulan Agustus 1945, lanjut Mahfud, penjajah kembali ingin kembali merebut Indonesia. Dalam keadaan genting itu, menurutnya, kaum santri tampil kembali melawan penjajah dan menjadi pembela negara. Pada 9 September 1945, jelas dia, Kyai Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang isinya Ummat Islam wajib melawan penjajah dan berperang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Lalu, fatwa yang semula dikeluarkan di Tebuireng itu, diulangi lagi melalui rapat PBNU di Bubutan Surabaya tangal 21-22 Oktober dimana fatwanya Kyai Hasyim Asyari dikeluarkan menjadi Fatwa Resolusi Jihad. Jawa Timur bergelora, kemudian terjadilah peristiwa 10 November yang kita kenal Hari Pahlawan itu," ungkapnya.

Pengurus Dewan Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Seluruh Indonesia ini menilai, dalam berbagai peristiwa perang kemerdekaan, peran santri sangat nyata dalam mempersatukan ideologi dan mempersatukan kekuatan melawan penjajah.

"Di sini tampak, betapa santri memiliki peran penting. Pertama mempersatukan ideologi. Kedua, mempersatukan kekuatan melawan penjajah untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sehingga lahir negara bedasar Pancasila, itulah peran kaum santri," ucap dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement