Jumat 29 Oct 2021 17:03 WIB

Anak yang Bergejala Diminta tak Datang ke Sekolah

Kasus positif di sekolah langsung dilakukan pelacakan atau tracing agar tidak meluas

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Hiru Muhammad
Siswa mengikuti pembelajaran tatap muka di SMKN 1 Yogyakarta, Senin (19/4). Sebanyak 10 sekolah menengah atas di Yogyakarta mengikuti ujicoba pertemuan tatap muka terbatas. Sebanyak 6 kelas 9 di SMKN 1 Yogyakarta mengikuti PTM terbatas. Dan setiap kelas hanya diikuti separuh total siswa.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Siswa mengikuti pembelajaran tatap muka di SMKN 1 Yogyakarta, Senin (19/4). Sebanyak 10 sekolah menengah atas di Yogyakarta mengikuti ujicoba pertemuan tatap muka terbatas. Sebanyak 6 kelas 9 di SMKN 1 Yogyakarta mengikuti PTM terbatas. Dan setiap kelas hanya diikuti separuh total siswa.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas di DIY masih terus berlangsung. Meski di beberapa sekolah ditemukan ada kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di beberapa sekolah, salah satunya di SMA Negeri 1 Sedayu, Kabupaten Bantul.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, sosialisasi harus dilakukan masif kepada siswa agar kasus Covid-19 tidak meluas di lingkungan sekolah. Pasalnya, dari kasus Covid-19 yang ditemukan di sekolah, dikarenakan dibawa dari luar.

"Satgas Covid-19 di sekolah punya tugas bukan hanya mengukur suhu tubuh, bukan hanya mengatur tempat duduk, mengatur jam pelajaran, tapi juga punya tugas mensosialisasikan kepada siswa bahwa bagi anak-anak yang bergejala itu jangan berangkat ke sekolah," kata Aji kepada wartawan, Jumat (29/10).

Sehingga, bagi siswa yang bergejala maupun masuk dalam kriteria kontak erat, diminta untuk memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. "Diperiksakan saja ke puskesmas supaya kalau memang tatap muka itu bisa segera ditangani," ujar Aji.

 

Aji menyebut, satgas Covid-19 yang ada di sekolah juga harus berkoordinasi dengan satgas yang ada di tingkat kelurahan hingga tingkat kecamatan. Sehingga, sosialisasi tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah.

Terkait kasus positif yang ditemukan di sekolah, Aji menyebut, langsung dilakukan pelacakan (tracing). Dengan begitu, potensi meluasnya penyebaran Covid-19 dapat ditekan. "Memang ada laporan dari beberapa sekolah ke dinas pendidikan anak terkonfirmas positif, dia masuk sekolah. Saat itu kita langsung lakukan tracing kepada anak-anak itu," jelasnya.

Seperti diketahui, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut, kasus positif Covid-19 yang ditemukan di sekolah dibawa dari luar. Siswa yang sebelumnya sudah tertular dari lingkungan rumah dan merupakan orang tanpa gejala (OTG).  

Walaupun begitu, Sultan menegaskan, agar kasus yang sudah ditemukan di sekolah cepat ditangani. Sehingga, penyebarannya tidak meluas dan tidak menjadi klaster baru penularan Covid-19."Yang penting itu cepat ditangani, tidak jadi klaster, yang namanya anak terus bermain ya repot," ujar Sultan.

Sultan menegaskan, pelaksanaan PTM masih terus berlanjut. PTM tidak dihentikan meskipun sudah ditemukan beberapa kasus positif Covid-19 di sekolah. "PTM ya lanjut, itu hanya kasus saja (bukan klaster)," kata Sultan.

Meskipun PTM tetap berlanjut di DIY, Sultan meminta agar diambil langkah cepat untuk menghentikan pelaksanaan PTM jika ditemukan kasus di sekolah. Sementara, bagi pelajar maupun tenaga pendidik yang ditemukan positif, diminta untuk segera menjalankan isolasi.

"Menurut pendapat saya, itu perlu dilihat OTG itu (tertularnya) dari luar atau memang dari sekolah. Kalau dari sekolah ya ditutup, kalau dari luar ya isolasi, tapi kan rata-rata (penularannya) ya dari luar," tambahnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement