Sabtu 30 Oct 2021 12:12 WIB

Kangen Konser

Konser musik semestinya diselenggarakan dalam kondisi yang sudah aman.

Sejumlah warga tidak mengenakan masker menyaksikan musik dangdut di Lapangan Tegal Selatan, Tegal, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2020). Konser musik dangdut yang diadakan Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Wasmad untuk perayaan pernikahan di tengah pandemi COVID-19 tersebut dihadiri banyak warga yang tidak menerapkan protokol kesehatan dengan tidak memakai masker dan tidak jaga jarak.
Foto: Antara/Oky Lukmansyah
Sejumlah warga tidak mengenakan masker menyaksikan musik dangdut di Lapangan Tegal Selatan, Tegal, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2020). Konser musik dangdut yang diadakan Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Wasmad untuk perayaan pernikahan di tengah pandemi COVID-19 tersebut dihadiri banyak warga yang tidak menerapkan protokol kesehatan dengan tidak memakai masker dan tidak jaga jarak.

Oleh : Gita Amanda, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Masih segar di ingatan saya, bagaimana gegap gempitanya suasana saat menghadiri liputan konser-konser musisi baik lokal maupun "interlokal". Liputan konser terakhir yang saya datangi memang sudah cukup lama. Waktu itu kalau tidak salah konsernya Boy II Men dan Brian McKnight, yang di gelar di Kota Kasablanka pada 2016 silam. Jauh sebelum pandemi "menyerang" dunia.

Layaknya konser, panggung cukup besar tersaji di depan penonton. Saat itu konser digelar tertutup atau indoor. Udara sejuk dari pendingin menyeruak. Konser baru dimulai malam hari, lupa tepatnya pukul berapa, dan dibuka oleh penampilan Brian McKnight. Pukul 22.00 WIB barulah Boyz II Men tampil. Penonton berdesakan, sambil teriak-teriak ikut bernyanyi. Band lawas itu memang punya banyak penggemar setia. Lagu-lagu yang berumur lebih dari 20 tahun kala itu, lancar dibawakan dengan iringan suara para penonton.

Berdesakkan, saling senggol dengan penonton sebelah bukan masalah. Mereka yang berpasangan bahkan berpelukan. Sementara lainnya duduk lesehan di belakang panggung, sambil ikut juga bernyanyi. Kurang lebih dua jam konser digelar. Sebelum akhirnya usai. Penonton puas, pulang meninggalkan area konser dengan suara sedikit serak. Bagaimana tidak? Hampir semua lagu-lagu Boyz II Men dan Brian McKnight sudah dihafal para penonton yang kebanyakan memang penggemar mereka. Ya paduan suara penonton selama konser otomatis tercipta.

Konser Boyz II Men, masih dalam batas normal dan wajar. Penontonnya juga kalem-kalem. Tentu berbeda dengan beberapa konser band beraliran lebih keras yang pernah saya tonton. Salah satu yang tidak saya lupa adalah gelaran Soundrenaline di Yogyakarta. Saya lupa tepatnya tahun berapa, tapi band-band besar Tanah Air tampil di sana.

Penontonnya jangan ditanya. Bukan hanya yang kalem-kalem, tapi yang beringas juga banyak. Apalagi saat band besar macam Slank dan Dewa tampil. Panggung super megah, lighting menyilaukan mata dan membuat takjub, sampai hentakan sound yang menggelegar dan membangkitkan adrenalin siapa pun untuk ikut bernyanyi dan berjingkrak.

Saling dorong saat bernyanyi bersama, bau asap rokok yang menyeruak di tengah kerumunan, hingga degup jantung saat suara musik terdengar sangat lantang di telinga, ternyata itu yang kita rindukan saat ini. Masa-masa setelah pandemi datang dan hal-hal semacam itu rasanya akan sulit lagi terjadi.

Pandemi "menyerang"

Pascapandemi, dengan cara penularan Covid-19 yang begitu mudah. Sudah dipastikan model konser seperti yang saya kisahkan akan sulit kembali dilakukan. Atau setidaknya mungkin tak seharusnya terjadi dalam waktu dekat. Saya pernah sekali mendengar soal konser langsung saat pembukaan PON Papua kemarin. Kalau tidak salah ingat, band Kotak manggung, dan penonton yang hadir harus memenuhi syarat sudah di vaksinasi dan memakai masker.

Hanya saja untuk konser normal seperti sebelum pandemi, rasanya masih butuh satu dua tahun lagi mungkin ya. Itu pun belum pasti. Sebab saat ini kondisi pandemi Covid-19 masih belum bisa dinyatakan sudah benar-benar berakhir. Meski sudah banyak masyarakat yang mendapat vaksinasi, tetap saja kita harus menjaga diri. Jangan sampai lupa diri dan kasus merangkak naik lagi.

Beberapa musisi selama pandemi banyak yang menggelar konser virtual. Selain untuk tetap berkarya, dapat cuan, mereka juga rindu rasanya untuk tampil di depan penggemar. Tapi tetap saja rasanya berbeda. Sebab yang namanya konser, tentu sensasi menyaksikan langsung penampilan musisi itu yang dinanti-nanti. Hentakan musik yang menggelegar, menyaksikan aksi musisi di atas panggung hingga interaksi langsung dengan idola. Itu yang membuat beda.

Bagi para penggemar musik, tentu sudah rindu bukan kepalang menyaksikan konser langsung. Saya sempat melihat beberapa konser yang digelar musisi luar saat pandemi. Beberapa tampak cukup unik. Ada yang dibuat dengan menerapkan jarak aman antar penonton, membuat area-area semacam lingkaran dengan isi 2-3 orang tiap lingkarannya dan berjarak satu lingkaran dengan lainnya. Ada yang dibuat dengan penonton dari mobil masing-masing. Ada yang menyelenggarakannya di lapangan luas, agar penonton tak berdesakkan. Semuanya punya benang merah sama, para penontonnya menjaga jarak dan mengenakan masker.

Mungkin ke depan akan banyak inovasi baru menyaksikan konser. Tak sabar rasanya, menunggu akan seperti apa konser pascapandemi terselenggara. Khususnya di dalam negeri. Tapi yang pasti jangan melupakan protokol kesehatan.

Ada banyak cara untuk senang-senang tanpa mengabaikan kesehatan. Para musisi maupun penyelenggara tentu harus pintar-pintar menciptakan acara yang aman untuk semua. Pemerintah, sebagai pembuat kebijakan juga harus tegas. Jangan sampai hanya dengan landasan menggerakan roda ekonomi, eh, pandemi balik lagi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement