Selasa 21 Sep 2021 18:34 WIB

Begini Fase Penyelamatan Pariwisata Terdampak Pandemi

Kemkominfo mendorong upaya branding dan sosialisasi destinasi pariwisata

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Friska Yolandha
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengunjungi kawasan wisata Bunaken di Sulawesi Utara, Jumat (5/7). Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) turut membantu pemulihan pariwisata di Indonesia.
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengunjungi kawasan wisata Bunaken di Sulawesi Utara, Jumat (5/7). Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) turut membantu pemulihan pariwisata di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) turut membantu pemulihan pariwisata di Indonesia. Salah satunya, Kemkominfo mendorong upaya branding dan sosialisasi destinasi pariwisata.

Koordinator Sub Direktorat Maritim Kemkominfo Yudi Syahrial menyampaikan pentingnya pemulihan sektor pariwisata di era pandemi Covid-19. Ia menyampaikan pelaku pariwisata harus tetap optimis walau terdampak pandemi. Ada tiga fase yang dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan pariwisata di Indonesia. 

"Pertama, tanggap darurat dengan menginisiasi program perlindungan sosial dan mendorong kreativitas dan inovasi dari rumah. Kedua, pemulihan dengan membuka tempat wisata secara bertahap dengan memperhatikan protokol CHSE dan mendukung optimalisasi MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition)," kata Yudi dalam keterangan pers yang diterima pada Selasa (21/9).

Yudi mengatakan Pemerintah mendukung upaya pemulihan tersebut dengan mengadakan webinar atau sosialisasi, vaksinasi, dan tetap melaksanakan protokol CHSE yang ketat. Langkah ini guna menuju ke fase ketiga dari penyelamatan pariwisata.

 

"Fase ketiga itu normalisasi dengan meningkatkan minat pasar dan diskon paket wisata dan MICE. Jika kita berbicara promosi pariwisata, media sosial pun tidak dapat terlepas," ujar Yudi.

Pakar Media Sosial, Rulli Nasrullah,  menambahkan ketika seseorang memposting kegiatan pariwisata, hal tersebut bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi bisa menjadi informasi bagi orang lain. Menurutnya, konten dan visualisasi yang baik mampu menjadi kekuatan dalam pemasaran digital yang dapat ‘membius’ calon wisatawan dan mampu menjadi top of mind dari suatu destinasi pariwisata. 

"Dengan satu tweet atau postingan untuk meramaikan media sosial dapat membantu mempromosikan pariwisata di Indonesia, yaitu berbentuk endorse dimana secara tidak langsung memberikan rekomendasi, ulasan pribadi serta membuka ruang interaksi terkait pengalaman," ucap Rulli.

Rulli mengamati ketika terdapat keterbatasan untuk melakukan promosi, terutama acara offline, maka promosi dari pemerintah tidak akan cukup. Sehingga diperlukan peran warganet untuk melakukan publikasi dan amplifikasi pariwisata di Indonesia.

"Sekali saja unggahan foto di tempat wisata itu penting. Bisa saja orang lain jadi tertarik berkunjung kesana," sebut Rulli.

Salah satu lokasi pariwisata yang mendapat perhatian Pemerintah ialah Likupang di Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Eksotisme pantai berpasir putih dan keelokan budayanya membuat Likupang mampu menjadi magnet bagi para wisatawan. 

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara Audy Sambul mengatakan daya tarik Likupang karena memiliki garis pantai terpanjang di Provinsi Sulawesi Utara. Sehingga Likupang memiliki banyak titik diving dengan keunikan biota laut dan karang yang merupakan perpaduan antara Bunaken dan Lembeh. 

"Keunikan lain yang dapat dinikmati adalah satwa endemik Pulau Sulawesi seperti sang primata terkecil tarsius, rusa, serta wisata menyaksikan penyu bertelur," ucap Audy. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement