Selasa 10 Aug 2021 20:31 WIB

Epidemiolog Sebut 7 Daerah di Sumbar Ini Rendah Testing

Pemkab yang rendah testing supaya meningkatkan jumlah testing dan tracing.

Rep: Febrian fachri/ Red: Dwi Murdaningsih
Tenaga kesehatan melakukan tes usap Antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR). ilustrasi
Foto: ANTARA/ADWIT B PRAMONO
Tenaga kesehatan melakukan tes usap Antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR). ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Epidemilog Universitas Andalas, Defriman Djafri, menyebut ada tujuh daerah tingkat kabupaten/kota di Sumbar yang rendah dalam melakukan testing covid-19. Tujuh daerah itu adalah  Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman, dan Kabupaten Pasaman Barat.

"Jumlah orang yang testing per minggunya belum merata di Kabupaten /Kota. Terdapat 7 Kab/Kota yang masih terbatas," kata Defriman, di Padang, Selasa (10/8).

Baca Juga

Defriman menjelaskan jumlah orang yang dites perminggu dari per seribu orang di Kabupaten Agam 0,7, Kabupaten Lima Puluh Kota 0,6, Kabupaten Padang Pariaman 0,8, Kabupaten Pasaman 0,7, Kabupaten Pasaman Barat 0,5, Kabupaten Pesisir Selatan 0,5 dan Kabupaten Solok 0,6.

Defriman menyarankan Pemprov Sumbar dan Pemkab yang rendah testing supaya meningkatkan jumlah testing dan tracing. Dengan begitu diharapkan pendataan kasus covid bisa lebih jelas. Supaya pola penanganan dan pengendalian pandemi covid di daerah tersebut bisa lebih tepat.

Defriman menjelaskan berdasarkan analisis data dari 25 Maret 2020 sampai 7 Juli 2021.

Dari hasil analisis epidemiologi yang dia lakukan, Defriman menyebut Kabupaten Kepulauan Mentawai yang mencatatkan angka testing terbaik, yakni 4,2. Setelah itu Kota Padang Panjang 3,7, dan Kota Padang 3,3.

Defriman menyebut jumlah kasus di daerah rendah testing yang tidak tinggi bukan berarti penanganan pandemi di daerah itu baik. Karena rendahnya testing menurut Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand tersebut justru lebih berbahaya karena ada banyak kasus tidak terdeteksi. Sehingga penularan terjadi tanpa disadari.

"Penambahan kasus sedikit bukan berarti daerah itu aman. Lihat dulu angka testing yang dilakukan," ujar Defriman.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement