Kamis 27 May 2021 09:05 WIB

Sebuah Cerita Tentang Debenhams

Krisis ekonomi akibat covid menghantam debenhams dan supermarket lainnya.

 Sejumlah dengan mengenakan masker berjalan melewati toko Debenhams yang ditutup di Oxford Street di London, Inggris,  Selasa (14/4). Menurut laporan dari Kantor Tanggung Jawab Anggaran Inggris, Ekonomi Inggris turun 35 persen. Negara-negara di seluruh dunia mengambil langkah-langkah ketat untuk membendung penyebaran Covid-19.
Foto: EPA-EFE/NEIL HALL
Sejumlah dengan mengenakan masker berjalan melewati toko Debenhams yang ditutup di Oxford Street di London, Inggris, Selasa (14/4). Menurut laporan dari Kantor Tanggung Jawab Anggaran Inggris, Ekonomi Inggris turun 35 persen. Negara-negara di seluruh dunia mengambil langkah-langkah ketat untuk membendung penyebaran Covid-19.

Oleh : Elba Damhuri, Kepala Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, Kabar buruk itu datang dari Inggris. Salah satu jaringan toko ritel terkenal Inggris, Debenhams, tutup selamanya.

Bagi mahasiswa termasuk mahasiswa asing atau kaum pekerja di Inggris, Debenhams menjadi salah satu pilihan toko untuk berbelanja terutama pakaian.

Harganya yang tidak terlalu tinggi menjadi alasan utama. Juga, produk-produknya pun beragam dengan kualitas bagus. Barang-barang merek top juga banyak di sini.

Saat pertama kali datang ke Newcastle, Inggris pada 2007, Debenhams menjadi salah satu toko yang direkomendasikan teman-teman untuk beli baju, celana, jaket, dan lain-lainnya untuk segala musim.

 

Saya ingat pada setiap pergantian musim pasti ada diskon besar di gerai-gerai ritel di Inggris seperti Marks and Spencer (M&S), H&M, Debenhams, NEXT, toko-toko di pusat perbelanjaan, ZARA, dan lain-lainnya.

Pada saat diskon sampai 90 persen itulah banyak orang termasuk saya berburu barang-barang yang dibutuhkan atau memang sudah lama ditarget.

Yang paling seru saat Boxing Day datang atau hari bagi-bagi kado yang menjadi tradisi orang Inggris saat Hari Natal. Tradisi Boxing Day pun menjadi tema laga-laga Liga Inggris yang bertanding pada 25-26 Desember.

Para pemain biasanya bagi-bagi kotak (kado) sebelum kick-off laga dimulai. Para penonton yang saling kenal maupun tidak kenal juga melakukan hal yang sama.

Di toko-toko, Boxing Day adalah diskon gila-gilaan. Pada setiap hari diskon besar Boxing Day ini ribuan orang antre di toko-toko favorit mereka sejak sebelum toko-toko itu buka.

Hujan salju sejak subuh pun tak masalah, diterabas. Biasanya, mereka yang antre memakai jaket tebal, penutup kepala, sarung tangan, dan merapatkan kedua telapak tangan sedikit menggigil saat antre.

Saya termasuk yang ikut tradisi setahun sekali ini. Debenhams di pusat kota Newcastle jadi toko target saya. Sebelum hari H Boxing Day, rupanya ada strategi yang bisa dilakukan agar barang yang kita mau beli tidak dibeli orang lain terlebih dahulu.

Jadi sehari atau dua hari sebelum Boxing Day, saya bersama teman-teman melakukan survei lapangan di toko ritel target kita. Begitu sudah memastikan produk apa yang mau dibeli saat Boxing Day, produk itu --misalnya jaket atau jas-- kita simpen di tempat rahasia. Atau tempat yang kecil kemungkinan dijangkau pembeli lainnya.

Saya menyimpan satu jaket yang harganya lumayan tinggi (sekitar 300 poundsterling di mana saat itu 1 poundsterling Rp 20.000) di ujung rak yang dipakai untuk display jaket panjang musim dingin.

Jika jaket yang saya pilih diskon sampai 80 persen, jadi sangat murah. Saya meletakkan jaket di ujung rak itu dalam perjalanan menuju kelas kuliah. Usai kuliah, saya mampir lagi ke Debenhams, dan jaket yang saya simpan di ujung rak masih ada.

Begitu hari H Boxing Day, saya ikut antre agak telat. Tidak sepagi para pesaing lainnya. Salju tipis turun menemani saya dan ribuan orang lain yang antre. Dingin sudah pasti.

*

Pada tahun 1950-an, Debenhams menjadi department store terbesar di Inggris dengan 110 toko. Gerai toko terakhir Debenhams ditutup pada Sabtu (15 Mei 2021).

Debenhams telah beroperasi selama 240-an tahun. Debenhams pertama kali didirikan pada 1778 ketika William Clark membuka toko di West End London.

Ia menjual kain, topi dan payung. Pada 1950-an, Debenhams menjadi department store terbesar di Inggris dengan toko yang tersebar di 110 lokasi. Ada lebih dari 150 toko Debenhams di seluruh Inggris. Jaringan ritel ini mulai menutup gerai mereka pada 2019 setelah beberapa tahun mengalami penurunan penjualan.

Pada Desember 2020, Debenhams mengumumkan penutupan bisnisnya dengan 12.000 pekerjaan hilang. Setelah kebijakan lockdown usai, 97 toko dibuka kembali untuk memungkinkan stok terakhir dibersihkan, dan secara bertahap telah ditutup selama dua minggu terakhir.

Gerai terakhir telah ditempeli dengan tanda-tanda penjualan, menawarkan beragam barang dengan harga murah di bawah harga pasar.

Bagi para pegawai, kesedihan mendera. Mereka ingat bahwa di masa-masa awalnya, toko tersebut menjual berbagai macam barang, mulai dari tangga loteng hingga rumah kaca.

"Itu sangat berkembang di tahun 1970-an dan 80-an. Setiap Jumat sore, toko benar-benar ramai dengan gadis-gadis dari pabrik," kata Glenis Thompson.

Merek Debenhams akan terus diperdagangkan secara online setelah dibeli oleh pengecer mode Boohoo seharga 55 juta euro pada Januari lalu.

Kabar penutupan gerai ritel juga datang dari M&S. Perusahaan ritel asal Inggris, Marks & Spencer, berencana menutup 30 tokonya selama 10 tahun ke depan. Itu sebagai bagian dari kesepakatan dengan Ocado.

M&S telah menutup atau merelokasi 59 toko utama, serta mengurangi 7.000 pekerja di seluruh toko dan manajemen. Perusahaan telah melaporkan kerugian besar pada tahun lalu karena pandemi berdampak pada penjualan pakaian.

Tapi penjualan makanan naik berkat kerja sama Ocado, berkontribusi pada kinerja keuangan yang tangguh di tahun gangguan. M&S merugi sebesar 201,2 juta euro dalam 52 minggu hingga 27 Maret, turun dari laba 67,2 juta euro pada tahun sebelumnya.

Sekitar 30 toko akan tutup secara bertahap selama dekade berikutnya. Sementara 80 lainnya akan dipindahkan ke lokasi yang lebih baik atau digabungkan dengan toko terdekat.

M&S juga menjadi salah satu tempat belanja meski tidak sering ketika saya kuliah di Inggris. Biasanya, saya belanja makanan dan minuman. Untuk pakaian termasuk jarang.

*

Boxing Day 2007 telah tiba. Diskon barang sampai 90 persen benar-benar riil kejadian.

Sambil terkantuk-kantuk dan sesekali menguap saya keluar rumah di Ellesmere Road, North East, Fenham, Newcastle. Salju turun menutupi jalan-jalan, rumah-rumah, mobil, dan lainnya. Pagi itu jalanan ramai, bus-bus penuh.

Sebelum antre di halte bus menuju pusat kota --kira-kira 15 menit dari halte ini-- saya seperti biasa membeli roti di Gregs, salah satu toko roti favorit saya. Saat itu, roti keju halal dan satu botol minuman hanya 2,5 poundsterling.

Setiap bertemu orang dan tentunya kebanyakan tidak kita kenal selalu terucap kata 'Good Morning', 'Morning', dan 'Marry Christmas'. Semua orang tersenyum.

Usai santap habis roti dari toko Gregs, saya naik bus menuju Debenhams di pusat kota Newcastle. Salah satu rute yang saya lewati tiap kali menuju pusat kota adalah Stadion St James Park, stadion kebanggaan fans The Toon Army.

Turun di halte tak jauh dari toko Debenhams, saya liat antrean masuk toko panjang sampai memenuhi trotoar. Antrean yang sama juga terjadi di beberapa toko lainnya.

Sekitar 5-10 menit kemudian saya baru bisa masuk toko yang penuh sesak orang. Banyak barang di rak-rak dan kotak-kotak terlihat kosong.

Saya jadi deg-degan, bisa-bisa jaket yang saya simpen di ujung rak sudah ada yang ambil. Maklum, jaket ini menjadi barang wajib di musim dingin dan gugur. Buat saya, di musim semi juga wajib pakai jaket: tetap dingin.

Beberapa orang berbicara dengan rekan-rekannya dengan nada kecewa dan mengajak berburu ke toko-toko lainnya. Sepertinya mereka tidak mendapat barang yang dicari. Mungkin mereka tidak menggunakan strategi yang saya buat sehingga kehabisan barang yang diburu.

Setelah berjuang berdesak-desakkan akhirnya saya sampai di baris rak jaket yang saya simpan. Optimisme masih tinggi. Lumayan, diskon 80 persen dari 300 poundsterling.

Satu per satu saya periksa rak-rak yang ada di ujung terutama rak jaket panjang musim dingin. Selama 15 menit lebih saya ubek-ubek ujung rak itu. Sesekali saya periksa rak-rak lainnya.

Hasilnya nihil. Jaket yang saya simpan seperti tertelan bumi. Ada seseorang yang terlebih dahulu merebut jaket ini.

Saya masih berusaha periksa lagi rak-rak itu. Namun, hasilnya menghancurkan hati saya. Jaket itu jatuh ke tangan orang lain.

Akhirnya, saya keluar toko sambil garuk-garuk kepala. Ya sudah ikhlas saja.

Di luar toko saya tak sengaja bertemu seorang teman Indonesia dengan dua tas kantong di tangannya.

"Mas, ayo kita ke NEXT...." kata teman Indonesia ini penuh semangat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement