Sabtu 15 May 2021 00:32 WIB

Warga Patuhi Prokes Saat Berwisata di Lokawisata Baturraden

Jumlah pengunjung di Baturraden masih jauh dari kuota yang ditetapkan Gubernur Jateng

Lokawisata Baturraden di Banyumas, Jawa Tengah.
Foto: Republika/Wahyu Suryana
Lokawisata Baturraden di Banyumas, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) saat berwisata ke Lokawisata Baturraden guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya penularan Covid-19.

Dari pantauan di Lokawisata Baturraden, Jumat (14/5), rombongan wisatawan lokal tampak mengantre pemeriksaan suhu tubuh yang dilakukan oleh petugas sebelum memasuki area penjualan tiket objek wisata milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas itu.

Demikian pula ketika memasuki pintu gerbang Lokawisata Baturraden, wisatawan lokal itu tetap menjaga jarak ketika petugas memeriksa tiket tanda masuk. Bahkan ketika menikmati panorama alam di Lokawisata Baturraden, mereka tetap menggunakan masker meskipun sesekali maskernya dibuka hanya sekadar untuk berswafoto.

Salah seorang wisatawan asal Desa Kedungmalang, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Yanto mengaku tetap berusaha menerapkan prokes meskipun kadang maskernya dibuka untuk sekadar berswafoto.

"Tapi sebelumnya, saya pastikan tidak ada orang lain di sekitar saya. Kalau sekiranya enggak ada orang lain, saya baru buka masker untuk berfoto, setelah itu dipakai lagi," katanya.

Wisatawan lainnya, Toto mengaku senang karena Pemkab Banyumas tidak menutup objek wisata, sehingga warga yang tidak mudik masih bisa menghilangkan kejenuhan saat libur Lebaran.

"Bayangkan saja kalau seluruh objek wisata ditutup, para perantau yang tidak bisa mudik seperti saya mau ngapain selama di perantauan. Kerjaan libur, di rumah terus ya bosan, sehingga saya bersama keluarga memutuskan untuk berwisata saja," kata perantau asal Surabaya itu.

Awalnya dia mengaku khawatir terjadi klaster penyebaran Covid-19 ketika hendak memutuskan untuk berwisata di Lokawisata Baturraden. Akan tetapi setelah melihat kondisi di lapangan, dia optimistis Pemkab Banyumas mampu mengantisipasi terjadinya klaster Baturraden dengan penerapan prokes ketat.

"Persiapan Pemkab Banyumas untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 di Lokawisata Baturraden memang luar biasa. Namun kita tentunya tetap harus waspada, jangan sampai lengah, tetap melaksanakan prokes selama berwisata," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas Wakhyono Ghozali mengakui pihaknya telah menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya mencegah penyebaran Covid-19 di Lokawisata Baturraden.

Selain itu pihaknya juga mengikuti kebijakan Gubernur Jawa Tengah yang membatasi jumlah pengunjung paling banyak 30 persen dari kapasitas maksimal. "Namun dalam praktiknya, jumlah pengunjung Lokawisata Baturraden masih jauh dari kuota yang ditetapkan Gubernur Jawa Tengah sebesar 30 persen dari kapasitas maksimal," katanya.

Menurut dia, hal itu disebabkan luas lahan di Lokawisata Baturraden secara keseluruhan kurang lebih 16,85 hektare, sedangkan luas lahan yang bisa dijamah manusia sekitar 10 hektare.

Ia mengatakan jika dari lahan seluas 10 hektare itu mampu menampung 100 ribu orang, sehingga ketika jarak antarmanusianya dibatasi 2 meter, lahan tersebut mampu diisi sekitar 50 ribu orang.

Dengan demikian ketika jumlah pengunjung Lokawisata Baturraden dibatasi maksimal 30 persen, kata dia, objek wisata tersebut bisa dikunjungi oleh 15 ribu orang. Namun dalam praktiknya, jumlah wisatawan yang datang masih kurang dari 30 persen karena sampai siang ini saja baru tercatat 1.081 orang dan sampai tutup sore nanti diperkirakan mencapai kisaran 2.000 orang.

"Sedangkan pada hari pertama lebaran kemarin (13/5), jumlah pengunjungnya hanya sebanyak 503 orang," katanya.

Ia mengakui pengunjung yang berwisata di Lokawisata Baturraden pada libur Lebaran 2021 didominasi wisatawan lokal dan sebagian dari beberapa kabupaten tetangga. Menurut dia, hal itu disebabkan adanya kebijakan larangan mudik dan pembatasan mobitas warga di beberapa wilayah Jawa Tengah.

"Kami optimistis bisa menyuguhkan wisata dengan maksimal meskipun kami juga melaksanakan prokes secara ketat dengan sarana dan prasarana yang melebihi dari ketentuan yang ada. Kemudian juga ada aplikasi Banyumas Tangguh hasil kerja sama dengan Polresta Banyumas yang di dalamnya sudah ada dokumen pribadi terkait dengan kondisi kesehatan wisatawan, sehingga screening yang kami terapkan Insya Allah bisa memenuhi syarat, bahkan lebih dari itu," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement