Jumat 19 Mar 2021 19:19 WIB

Tebing Cipanas Longsor, Geser Perbatasan Indramayu-Sumedang

Tanah seluas 40 hektare yang hilang itu di antaranya terdiri dari 25 rumah warga

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: A.Syalaby Ichsan
Alat berat didatangkan untuk memperbaiki tanggul sungai Cipanas yang jebol di Blok Widara, Desa Puntang, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Sabtu (27/2).
Foto: Istimewa
Alat berat didatangkan untuk memperbaiki tanggul sungai Cipanas yang jebol di Blok Widara, Desa Puntang, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Sabtu (27/2).

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Longsor pada tebing sungai Cipanas di Blok Rempagan, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten indramayu, kian mengkhawatirkan. Kondisi itu bahkan telah menggeser titik perbatasan Kabupaten Indramayu – Kabupaten Sumedang.

Plt Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu, Caya, mengatakan, longsor pada tebing sungai Cipanas sudah terjadi sejak 20 tahun lalu. Longsoran terjadi secara bertahap.

"Longsoran itu telah membuat batas Kabupaten Indramayu dengan Kabupaten Sumedang menjadi bergeser ke arah Indramayu. Tanah kita (Indramayu) jadi kebawa ke Sumedang,’’ ujar Caya, Jumat (19/3).

Caya menyebutkan, titik perbatasan itu terletak antara Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu dengan Desa Cibuluh, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. Menurut dia, titik perbatasan kedua daerah semula berada di sungai lama.

"Sekarang sungai lamanya sudah jadi daratan, (perbatasan kedua daerah) saat ini beralih ke sungai baru,’’ kata Caya.

Caya menyebutkan, pergeseran batas antara Indramayu – Sumedang itu terjadi sekitar sepuluh meter per tahun. Dengan demikian, selama 20 tahun terakhir, pergeseran batas diperkirakan telah mencapai sekitar 200 meter.

Caya mengatakan, akan mencari peta lama dari perbatasan kedua kabupaten tersebut. Pihaknya pun akan mendata lebih rinci tanah milik Indramayu yang sudah hilang akibat longsor. "Kita kehilangan tanah sekitar 40 hektare. Lagi kita sisir surat-suratnya, suratnya ada tapi fisiknya (tanahnya) sudah tidak ada,’’ terang Caya.

Caya menyebutkan, tanah seluas 40 hektare yang hilang itu di antaranya terdiri dari 25 rumah warga dan lahan lainnya. Dia menyebutkan, 25 unit rumah milik warga kini sudah hilang seluruhnya terbawa longsoran tebing sungai.

Caya mengatakan, para pemilik rumah itu sudah pindah ke lokasi lain. Mereka tidak memperoleh ganti rugi karena rumah dan tanah milik mereka hanyut terbawa sungai.

Selain 25 rumah warga yang sudah hilang itu, lanjut Caya, ada lima unit rumah lainnya yang kini posisinya sudah terancam. Jarak kelima rumah itu dengan bibir sungai saat ini tinggal 5 – 20 meter. "Mereka saat ini merasa khawatir karena sudah ada longsoran baru,’’ tutur Caya.

Tak hanya merubah batas wilayah dan menghilangkan 25 rumah warga, lanjut Caya, longsoran tebing sungai Cipanas itu juga telah memutus jalan desa. Kondisi tersebut menyulitkan akses warga setempat.

Caya menambahkan, pihaknya akan menggelar rapat koordinasi yang melibatkan instansi terkait, baik dari pihak Kabupaten Indramayu maupun Kabupaten Sumedang. Rapat juga rencananya akan melibatkan BBWS Cimanuk Cisanggarung.

Caya mengungkapkan, rapat itu akan membahas mengenai kejelasan titik batas kedua daerah. Setelah masalah batas itu terselesaikan, maka akan dilakukan pengerjaan pembuatan sodet sungai untuk mengatasi longsoran tersebut. "Nanti pihak provinsi sebagai hakim (dalam pembahasan titik batas Indramayu – Sumedang),’’ tukas Caya.

Caya menyatakan, Tim Teknis BBWS Cimanuk Cisanggarung bersama Balitbang Kementerian PUPR juga telah meninjau lokasi. Peninjauan itu dilakukan pada Kamis (18/3).

Ketua RW 01 Desa Cikawung, Wano (50), mengatakan, longsoran tebing sungai Cipanas itu semakin parah sejak lima tahun terakhir. Puluhan rumah warganya terpaksa dikosongkan, bahkan  ada sebagian yang hancur terseret tebing yang longsor.

"Bagi warga yang punya uang, mereka pindah ke lokasi lain dan membangun rumah yang baru. Tapi kalau yang tidak punya uang, hanya bisa pasrah mengungsi ke rumah kerabat mereka,’’ jelas Wano. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement