Jumat 29 Jan 2021 22:06 WIB

BPOM Pantau Distribusi untuk Jaga Mutu Vaksin Covid-19

Kesalahan pada sistem distribusi, bisa menyebabkan vaksin dapat kehilangan khasiatnya

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Andi Nur Aminah
Personel Kepolisisan berjaga saat bongkar muat vaksin Covid-19 Sinovac dari mobil pendingin di Gudang Farmasi   (ilustrasi)
Foto: ANTARA/ M Ibnu Chazar
Personel Kepolisisan berjaga saat bongkar muat vaksin Covid-19 Sinovac dari mobil pendingin di Gudang Farmasi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan, distribusi menjadi aspek penting terhadap mutu vaksin Covid-19. Kesalahan dalam sistem distribusi, dapat menyebabkan vaksin dapat kehilangan khasiatnya.

"Aspek mutu saat distribusi sangat penting sekali untuk menentukan vaksin tersebut sampai di tangan masih memenuhi jaminan mutu atau tidak," ujar Kepala BPOM Penny K Lukito, Jumat (29/1). 

Baca Juga

BPOM, kata Penny, tak hanya bertangungjawab terhadap mutu vaksin saat produksi. Tetapi juga, memastikan vaksin masih memiliki mutu standar setelah sampai ke penerima. Dengan begitu, tujuan vaksinasi dapat tercapai. 

Peny mengatakan, untuk memastikan hal itu, BPOM terus melakukan monitoring distribusi vaksin Covid-19. Termasuk memberikan sejumlah rekomendasi agar mutu vaksin terjamin. Di antaranya mesti ada pencatat suhu, ketersediaan genset, dan lainnya. 

"Kami telah melakukan penilaian terhadap semua instalasi farmasi vaksin. Kami tadi sampling ke Sereang hingga puskesmas. Alhamdulilah saya melihat koreksi kami, seperti ketersediaan genset dan alat cek temperatur sudah disediakan," paparnya.

Sementara menurut, Dirut PT Bio Farma Honesti Basyir, Bio Farma juga memiliki tanggungjawab terhadap distribusi vaksin. Jangan sampai vaksin yang sudah bagus tapi saat distribusi bermasalah, jadi vaksin tidak bermutu. 

"Jadi di daerah benar-benar bisa di monitor. Termasuk vaksin juga bisa diberikan kepada orang yang sesuai dan tepat sasaran," katanya.

Menurutnya, tantangan distribusi vaksin masih luar biasa besar. Karena, Bio Farma harus mendistribusikan kepada 185 juta penduduk. Sehingga perlu upaya luar biasa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement