Kamis 21 Jan 2021 15:17 WIB

Pedagang Palembang Keluhkan Harga Kedelai yang Masih Tinggi

Upaya mogok pedagang tahu tempe tidak berhasil menekan harga kedelai untuk turun.

Pekerja membuat tahu. Harga kedelai di Palembang, Sumsel, dianggap masih tinggi membuat pedagang tahu tempe merasa kesulitan.
Foto: Antara/Fauzan
Pekerja membuat tahu. Harga kedelai di Palembang, Sumsel, dianggap masih tinggi membuat pedagang tahu tempe merasa kesulitan.

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Sejumlah produsen sekaligus pedagang tempe dan tahu di Palembang mengeluhkan harga kedelai tak kunjung turun dalam tiga pekan terakhir. Harga kedelai di Palembang dianggap masih tinggi hingga kini.

Yitno, salah seorang pedagang tempe di Pasar Perumnas Palembang, Kamis (21/1), mengatakan saat ini harga masih Rp 9.300/kilogram. Atau terjadi kenaikan signifikan dibandingkan sebelumnya Rp 6.800—Rp 7.000/kilogram.

Baca Juga

“Lama sekali tidak turun-turun, padahal kami sudah sempat mogok tiga hari,” kata Yitno.

Sebelumnya sejumlah pedagang tempe dan tahu di pasar tradisional Kota Palembang melakukan mogok berproduksi. Mereka berhenti berjualan pada 11 Januari-13 Januari 2021 untuk menyikapi kenaikan kedelai.

Keputusan ini diambil dengan harapan terjadi perubahan terhadap harga setelah permintaan ditekan oleh produsen/pedagang. Namun setelah berselang satu pekan setelah mogok tersebut, tetap saja harga tak kunjung turun.

Hasan, pedagang tempe di Pasar Lemabang Palembang mengatakan malahan pedagang memprediksi harga bakal naik hingga menembus Rp 10.000/kilogram. “Katanya informasinya begitu dari koperasi,” kata dia.

Kenaikan harga tersebut membuat pedagang terpaksa menaikkan harga Rp 1.000 untuk tiap produk lantaran enggan mengurangi ukuran dari tempe/tahu. Walau demikian, menurutnya dari sisi pembeli sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.

“Permintaan masih stabil saja, hanya saja kami yang harus cukup uang untuk modal karena harga per karung kedelai naik drastis,” kata dia.

Paguyuban Pengusaha Tempe di Palembang sepakat melakukan aksi mogok produksi dan jualan tempe sejak 11 Januari 2021 sebagai bentuk sikap tegas menanggapi harga kedelai yang meningkat pesat tanpa terkendali, dan membuat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tempe terus merugi. Mogok berjualan tempe juga pernah terjadi pada 2003, 2008 dan terakhir pada 2011 silam lantaran pemerintah menyerahkan impor kedelai ke pasar bebas, sehingga harga menjadi tak stabil.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumsel mengimbau produsen tahu dan tempe untuk tidak menaikan harga terlalu tinggi. “Kami mengimbau para produsen (tahu dan tempe) tidak menaikkan harga terlalu tinggi apalagi saat ini masih pandemi Covid-19. Saat ini kami terus membangun koordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengatasi persoalan ini,” kata dia.

Kenaikan kedelai dipicu oleh lonjakan permintaan dari China kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia. Pada Desember 2020 permintaan kedelai China naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement