Kamis 21 Jan 2021 01:25 WIB

Peneliti Nilai Penting Pemetaan Potensi Banjir Bandang

Pemetaan detail potensi bencana dinilai penting untuk antisipasi banjir bandang.

Warga mengamati kondisi pascabanjir bandang yang melanda Kampung Gunung Mas, Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor menyatakan 474 warga berhasil dievakuasi dari bencana banjir bandang di Desa Tugu Selatan, dalam peristiwa tersebut tidak terdapat korban jiwa. ANTARA FOTO/ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.
Foto: ANTARA FOTO
Warga mengamati kondisi pascabanjir bandang yang melanda Kampung Gunung Mas, Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor menyatakan 474 warga berhasil dievakuasi dari bencana banjir bandang di Desa Tugu Selatan, dalam peristiwa tersebut tidak terdapat korban jiwa. ANTARA FOTO/ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menilai pemetaan potensi bencana secara detail merupakan upaya yang cukup penting untuk mengantisipasi bencana banjir bandang di masa mendatang. Itu diungkapkanya menyusul banjir bandang yang terjadi di Puncak, Bogor, pada Selasa (19/1).

"Jadi penanggulangannya supaya kejadian ini tidak terjadi lagi, perlu diupayakan yang pertama harus dibuat peta yang lebih detail terkait bencana banjir bandang," kata peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI Dr. Iwan Ridwansyah saat dihubungi Antara, di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan bahwa banjir bandang merupakan banjir yang datang tiba-tiba dan cepat akibat hujan deras pada topografi curam, pelepasan tiba-tiba air yang tertahan dari konstruksi bendungan, juga pembendungan badan air (damning), dan kegagalan tanggul atau lereng. Selain itu, banjir bandang juga membawa puing-puing (debris) berupa tanah, kayu, dan bebatuan.

Di Indonesia, banjir bandang menunjukkan tren peningkatan. Data Sendai UNDRR pada 2019 dan BNPB pada 2019 memperlihatkan peningkatan banjir bandang, terutama pada 2016 dan 2017 yang mencapai 75 dan 90 kejadian.

Mekanisme terjadinya banjir bandang berbeda dengan banjir biasa. Pada banjir bandang biasanya ada bagian-bagian sungai yang terbendung. Kemudian, karena curah hujan makin tinggi, bendungan tersebut tidak kuat menahan beban maka akhirnya jebol dan hanyut ke bagian lebih hilir.

Pada beberapa kasus, proses tersebut terjadi dengan rentetan bendung alam yang banyak. Begitu bendung yang atas jebol, maka air yang membawa puing-puing secara berurutan akan menghantam bendung di bawahnya dengan dampak kerusakan lebih besar.

Pada kasus banjir bandang di Gunung Mas, Bogor, berdasarkan sumber informasi setempat mengatakan bahwa telah terjadi longsor pada dua bulan lalu di bagian hulu.

Kemungkinan longsoran tersebut kemudian menghambat aliran sungai berupa bendung alam, atau kemungkinan sebab lainnya adalah karena aliran sungai memang terhambat oleh batang-batang kayu dan ranting sehingga membentuk bendungan alam.

Ketika hujan lebat mencapai 119 mm, seperti yang tercatat di pos hujan Citeko Puncak, Bogor, pada Selasa (19/1), air terkumpul di bendung tersebut dan karena tidak kuat menahan beban masa air, kemudian bendungan tersebut jebol dengan membawa semua material sedimen, ranting dan batang kayu juga ikut hanyut ke bagian hilirnya dengan daya rusak yang lebih kuat.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang, Iwan menyarankan agar pemetaan daerah potensi bencana bisa dilakukan lebih detail lagi dengan menggunakan analisa keruangan pada aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti morfologi DAS, penggunaan lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, litologi batuan, struktur geologi dan intensitas hujan.

Peta hasil analisa tersebut bisa menjadi arahan wilayah mana saja yang berpotensi terjadi banjir bandang dan wilayah yang akan terdampak. Bila ada pemukiman pada wilayah terdampak, maka perlu dilakukan relokasi atau dibangun DAM penahan supaya pemukiman tidak terkena aliran banjir bandang tersebut.

Setelah melakukan pemetaan daerah rawan bencana, langkah antisipasi berikutnya adalah dengan memonitor kondisi aliran sungai bilamana ada bendung-bendung alami, baik karena longsoran, atau batang-batang kayu yang terbentuk secara alami.

Metoda yang tepat untuk melakukan monitoring adalah dengan menggunakan penginderaan jauh (remote sensing), baik dengan menggunakan citra satellite resolusi tinggi, atau menggunakan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau biasa dikenal sebagai drone.

"Wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi banjir bandang secara berkala dimonitor, dan apabila ada bendung-bendung alami segera diruntuhkan untuk menghindari terjadinya banjir bandang," kata Iwan, yang juga merupakan Ketua Kelompok Penelitian : Mitigasi Bencana Perairan Darat.

Kemudian, upaya antisipasi lain yang bisa dilakukan adalah dengan membangun sistem peringatan dini pada wilayah-wilayah yang berpotensi bencana banjir bandang, dengan memonitor parameter-parameter yang menjadi penyebab banjir bandang, misalnya intensitas hujan, debit aliran sungai dan longsor. Sistem peringatan dini tersebut juga diharapkan bisa memberikan peringatan kepada penduduk di wilayah hilir bilamana terjadi bencana.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement