Rabu 06 Jan 2021 18:10 WIB

Perajin Tempe di Yogyakarta Pertahankan Harga

Kenaikan harga kedelai cukup tinggi sangat memberatkan perajin meski pasokan normal.

Pekerja memproduksi tempe (ilustrasi). Perajin tempe di Yogyakarta mempertahankan harga jual meski harus mengurangi ukuran produk di tengah tingginya harga bahan baku kedelai.
Foto: ANTARA/Indrayadi TH
Pekerja memproduksi tempe (ilustrasi). Perajin tempe di Yogyakarta mempertahankan harga jual meski harus mengurangi ukuran produk di tengah tingginya harga bahan baku kedelai.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Perajin tempe di Kota Yogyakarta, DIY memilih untuk tetap mempertahankan harga produk meskipun harga kedelai yang digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan tempe mengalami kenaikan signifikan.

"Kami tetap mempertahankan harga sehingga ukuran tempe pun terpaksa dikecilkan dari ukuran sebelumnya. Ini untuk menyiasati agar harga tidak perlu dinaikkan," kata Sutrisno, salah satu perajin tempe di Sidikan Yogyakarta, Rabu (6/1).

Baca Juga

Selain mengubah ukuran tempe menjadi lebih kecil, jumlah bahan baku yang digunakan untuk membuat tempe pun dikurangi. Sebelumnya, Sutrisno menghabiskan 25 kilogram turun menjadi 20-22 kilogram per hari.

Saat ini, lanjut dia, perajin harus membeli kedelai dengan harga Rp 8.900 per kilogram atau mengalami kenaikan dibanding harga sebelumnya yaitu sekitar Rp 7.150 per kilogram.

"Kenaikan harga kedelai cukup tinggi ini sangat memberatkan perajin meski kami tidak mengalami kesulitan untuk memperoleh bahan baku," ungkap dia.

Ia pun tidak dapat memastikan penyebab naiknya harga kedelai impor yang selama ini menjadi bahan baku tempe. Sebab dari penjual, harga kedelai impor sudah naik.

"Tentu saja yang kami harapkan adalah harga kedelai kembali turun sehingga produksi bisa kembali normal," kata Sutrisno.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta Sri Riswanti mengatakan, Pemkot Yogyakarta sudah melakukan pemantauan ke gudang distributor kedelai seperti arahan dari Kementerian Perdagangan.

"Harga diharapkan dapat segera stabil di kisaran Rp 9.000 per kilogram karena sebelumnya sempat mengalami kenaikan sampai Rp 11.000 per kg," kata Sri.

Kenaikan harga kedelai tersebut, lanjut dia, juga berdampak pada berkurangnya produksi. Hal tersebu dapat terlihat dari jumlah tempe yang dijual di pasar menjadi lebih sedikit sejak awal pekan ini.

Sebelumnya, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta juga sudah berkoordinasi dengan Polda DIY terkait kenaikan harga kedelai. "Kami akan coba lakukan pendataan mulai besok mengenai perkembangan komoditas ini," ucap Sri.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement