Rabu 30 Dec 2020 00:13 WIB

Sebanyak 85 Persen Nakes Jatim Terlibat Tangani Covid-19

Tenaga kesehatan yang baru direkrut untuk bertugas di Rumah Sakit Darurat Lapangan.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Andri Saubani
Sejumlah pendatang menjalani Tes Cepat Antigen di Posko Yustisi Rest Area KM 429 A, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (24/12). (ilustrasi)
Foto: dok.Humas Prov. Jateng
Sejumlah pendatang menjalani Tes Cepat Antigen di Posko Yustisi Rest Area KM 429 A, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (24/12). (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  SURABAYA -- Staf Ahli Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, dr. Makhyan Jibril Al-Farabi mengungkapkan, sekitar 85 persen tenaga kesehatan (nakes) di 145 rumah sakit rujukan Covid-19 di Jatim yang terlibat menangani pasien terjangkit virus tersebut. Artinya, kata dia, ketika rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid-19 membutuhkan tenaga kesehatan tambahan, bisa mengajukan ke dinas kesehatan kabupaten/kota untuk merekrut tenaga kesehatan yang saat ini belum terlibat menangani pasien Covid-19.

"Ini kan masih ada kesempatan. Artinya untuk bisa mereka ikut merawat Covid-19 rumah sakit-rumah sakit rujukan bisa merekrut mereka. Yang tahu kebutuhan kan rumah sakit masing-masing. Kalau butuh mereka bisa mengajukan asalkan sudah ada hitung-hitungannya," ujar Jibril dikonfirmasi Republika, Selasa (29/12).

Baca Juga

Jibril menjabarkan, di Jatim terdapat sekitar 3.675 dokter umum. Sedangkan yang saat ini terlibat penanganan Covid-19 baru 1.903 dokter.

Kemudian, Jatim juga memiliki 380 dokter paru, dan yang saat ini terlibat merawat pasien Covid-19 baru 241 dokter. Selanjutnya dokter penyakit dalam di Jatim ada 868 orang, dan yang terlibat baru 486 orang. Selanjutnya dokter anestesi di Jatim sebanyak 586 orang, dan yang terkibat merawat pasien Covid-19 baru 290 orang.

"Jadi sebenarnya kan tenaga itu ada. Cuma memang belum semuanya direkrut. Rumah sakit tinggal menghitung kebutuhannya berapa, nanti didiskusikan ke Dinkes kabupaten/ kota masing-masing kalau memang butuh bantuan," ujar Jibril.

Terkait kebutuhan tenaga kesehatan, Jibril menegaskan hal itu dikembalikan ke rumah sakit masing-masing. Rata-rata tngkat keterisian rumah sakit di Jatim memang berada di kisaran 60 hingga 70 persen. Namun, kata dia, memang ada rumah sakit yang tingkat keterisiannya tinggi, ada juga yang rendah.

"Jadi memang harus mengkaji beban rumah sakit karena ada yang penuh ada yang enggak. Kalau ada rumah sakit yang penuh dan butuh tambahan silahkan mengajukan," kata Jibril.

Jibril mengakui, pihaknya baru saja melakukan rekrutmen tenaga kesehatan. Namun, tenaga kesehatan yang baru direkrut tersebut difokuskan untuk rumah sakit darurat lapangan. Di mana Pemprov Jatim baru saja menambah rumah sakit darurat lapangan di Malang dan Jember.

"Sementara ini tenaga-tenaga baru ini kita tambahkan di rumah sakit lapangan karena kan banyak (penambahan pasiennya) bisa ratusan," kata Jibril.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement