Ahad 13 Dec 2020 16:39 WIB

Pemkot Tasikmalaya Antisipasi Kemunculan Klaster Pesantren

Dinkes sempat mengimbau pesantren tak mengizinkan pulang santri, namun tak mudah.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Erik Purnama Putra
Suasana pemeriksaan kesehatan sebuah pesantren demi mencegah penyebaran Covid-19 (ilustrasi).
Foto: Antara/Syaiful Arif
Suasana pemeriksaan kesehatan sebuah pesantren demi mencegah penyebaran Covid-19 (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dari lingkungan pesantren di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, terus bertambah. Hingga Ahad (13/12), setidaknya terdapat lebih dari 300 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dari salah satu lingkungan pesantren di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya, Uus Supangat, mengatakan, terjadi penambahan kasus dari lingkungan pesantren. Kasus di pesantren itu semula berada di angka 200-an orang positif Covid-19, dan kemudian menembus angka 300 kasus.

"Tapi sudah ada yang dipulangkan 200 lebih, sudah dinyatakan sehat. Itu bentuk tanggung jawab pesantren menanggulangi yang positif sebelum pulang," kata Uus saat dihubungi Republika, Ahad (13/12).

Para santri yang telah sehat itu dipulangkan ke rumah masing-masing, lantaran saat ini sudah memasuki masa liburan di pesantren. Karenanya, kegiatan belajar di pesantren umumnya sudah berhenti, meski masih ada beberapa santri yang bertahan karena berbagai alasan.

Untuk mengantisipasi kemunculan klaster pesantren usai masa liburan, Uus menjelaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya melakukan pemindaian (screening) kepada para santri saat kembali ke pesantren. "Kita akan seperti dulu, melakukan screening saat nanti kegiatan berjalan," kata Uus.

Selain itu, pihak pesantren kembali diingatkan agar memperketat mobilisasi orang saat kegiatan berjalan. Sebab, hal itu dapat berpotensi menimbulkan klaster penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren.

"Kita sebenarnya sudah sempat imbau pesantren tak mengizinkan pulang santri saat kegiatan di pesantren berjalan. Namun nyatanya itu tak mudah dilakukan karena banyak hal," kata Uus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement