Jumat 11 Dec 2020 10:40 WIB

'Pembangunan Pesisir Selatan Jangan Samakan dengan Pantura'

Jalur di pantura sudah cukup bagus ditambah dengan adanya jalan tol.

Foto udara banjir dari luapan Kali Klawing menggenangi jalur penghubung Kabupaten Banyumas-Purbalingga di Jembatan Linggamas, Desa Petir, Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (3/12/2020). Curah hujan ekstrim pada Rabu (2/12) malam di wilayah selatan Jawa Tengah menyebabkan sejumlah sungai di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga meluap sehingga menyebabkan beberapa titik jalan dan permukiman warga terendam banjir.
Foto: ANTARA/Idhad Zakaria
Foto udara banjir dari luapan Kali Klawing menggenangi jalur penghubung Kabupaten Banyumas-Purbalingga di Jembatan Linggamas, Desa Petir, Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (3/12/2020). Curah hujan ekstrim pada Rabu (2/12) malam di wilayah selatan Jawa Tengah menyebabkan sejumlah sungai di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga meluap sehingga menyebabkan beberapa titik jalan dan permukiman warga terendam banjir.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Kawasan Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan memiliki karakter berbeda dengan wilayah Jateng bagian utara, kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi.

"Potensi Jawa Tengah bagian selatan memang agak berbeda dengan utara. Hal ini kalau saya melihat terkait dengan karakter geografinya, kemudian demografinya, dan potensi alam yang ada. Jadi kalau memang kita akan sandingkan antara selatan dan utara, mungkin akan beda sekali," kata Budi dalam webinar "Pengembangan Konektivitas Untuk Mendorong Perekonomian Kawasan Jawa Tengah Bagian Selatan".

Akan tetapi kalau Jateng selatan akan dikembangkan mirip dengan utara, kata dia, hal itu mungkin salah konsep. Karena jalur di wilayah utara mulai dari Brebes, Tegal, dan seterusnya, saat sekarang sudah cukup bagus ditambah dengan adanya jalan tol.

Dengan demikian, lanjut dia, geliat ekonomi perdagangan, perindustrian, jasa, dan sebagianya di kawasan Jateng bagian utara sudah cukup bagus. Lebih lanjut, dia mengatakan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebetulnya sudah membangun jalur pantai selatan Jawa (Pansela) yang telah terhubungkan dari Banten hingga Jawa Timur.

"Namun memang di beberapa koridornya, sebagian barang kali belum sempurna. Tapi kalau melihat karakter jalannya, infrastrukturnya, jalan ini kalau dibilang sangat indah sekali," katanya.

Bahkan berdasarkan inventarisasi Kementerian PUPR, kata dia, jalur Pansela (Pantai Selatan) di Jawa Barat melewati kurang lebih 20 kawasan wisata, baik wisata pantai maupun wisata alam lainnya.

"Jadi kalau kita mungkin akan bicara mulai dari Cilacap, katakan untuk wilayah Jawa Tengah bagian selatan masuk Cilacap, kemudian Kebumen, Purworejo, kemudian sampai ke Yogyakarta, itu yang bisa dikembangkan harusnya melihat bagaimana karakter masyarakat di sana dan juga kondisi geografisnya," katanya.

Ia mengaku berdiskusi dengan beberapa BUMN maupun swasta terkait rencana pengembangan kawasan industri di Wangon, Kabupaten Banyumas. Dalam diskusi itu, kata dia, muncul pertanyaan terkait dengan kondisi akses jalan di kawasan industri tersebut.

"Nah, kalau mengandalkan akses jalan nasional sekarang ini, mungkin kurang bagus, selain waktu, mungkin menyangkut kerusakan jalan nantinya. Jadi, yang dipertanyakan sebenarnya menyangkut jalan tol," katanya.

Lebih lanjut, Budi mengatakan Kemenhub dalam rangka menyiapkan konektivitas dan aksesibilitas untuk infrastruktur jalan darat, kereta api, maupun pelabuhan sudah melakukan pembangunan dan peningkatan simpul transportasi di Jawa Tengah.

Menurut dia, simpul transportasi tersebut di antaranya dua bandara internasional, empat bandara domestik, 14 pelabuhan dengan satu pelabuhan utama, angkutan aglomerasi, 131 stasiun kereta api, dan terminal bus.

"Terminal Tipe A di Jawa Tengah ternyata ada 118. Terminal Tipe A yang sekarang sudah dikelola Kementerian Perhubungan ada 17 karena sudah penyerahan dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah pusat dan sebagian dari terminal ini, tahun 2020 sudah mulai kami perbaiki, yaitu di Solo, Semarang, kemudian nanti menyusul Pekalongan, Bobotsari, Purwokerto juga mulai terbangun, kemudian Klaten, Cilacap. Kalau Cilacap sudah cukup bagus," katanya.

Ia mengatakan dari sekian banyak Terminal Tipe A yang dikelola Kemenhub nantinya memiliki konsep berbeda dari sebelumnya yang berdiri sendiri. Dalam hal ini, kata dia, terminal-terminal tersebut akan diupayakan terintegrasi dengan moda transportasi yang lain seperti Terminal Tirtonadi Solo telah terhubungkan dengan stasiun kereta api.

Selain itu, lanjut dia, terminal ke depan tidak hanya untuk naik-turun penumpang, juga ada manfaat sosial, ekonomi, dan edukasi. Sementara itu, Direktur Prasarana Perkeretaapian Kemenhub Heru Wisnu Wibowo mengatakan saat ini, Kemenhub telah membangun jalur ganda lintas selatan.

"Ini memang dibangun setelah jalur ganda lintas utara Jawa selesai. Di tahun ini, kami sudah menyelesaikan double track (jalur ganda) mulai dari Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Madiun, dan Surabaya panjangnya kurang lebih 600 kilometer sudah double track, tahun ini kami sudah menyelesaikan sampai Mojokerto," katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga telah menyelesaikan akses untuk Kereta Api Bandara Adi Soemarmo Solo. Menurut dia, KA Prambanan Ekspres (Prameks) yang selama ini melayani rute Solo-Yogyakarta-Kutoarjo pergi pulang nantinya akan diganti dengan kereta rel listrik (KRL) untuk rute Yogyakarta-Solo.

"Ini KRL kedua yang berbasis setelah Jabodetabek. Sekarang sudah diuji coba untuk Yogyakarta sampai dengan Klaten, berikutnya Klaten sampai dengan Solo, kami berharap awal Januari bisa dioperasikan," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement