Selasa 03 Nov 2020 20:31 WIB

Lima Desa di Pasuruan Terendam Banjir

Seharusnya dilakukan penanganan yang komprehensif

Warga menerobos banjir di desa Kedungringin, Beji, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (3/11/2020). Hujan yang turun dengan intensitas cukup tinggi beberapa hari terakhir merendam ratusan rumah di lima desa kecamatan Beji, Pasuruan selama empat hari dengan ketinggian mencapai satu meter sehingga menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu.
Foto: ANTARA/Umarul Faruq
Warga menerobos banjir di desa Kedungringin, Beji, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (3/11/2020). Hujan yang turun dengan intensitas cukup tinggi beberapa hari terakhir merendam ratusan rumah di lima desa kecamatan Beji, Pasuruan selama empat hari dengan ketinggian mencapai satu meter sehingga menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu.

REPUBLIKA.CO.ID, PASURUAN — Sebanyak lima desa di dua kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur menjadi wilayah terendam banjir dengan ketinggian sekitar 90 centimeter selama dua hari terakhir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Tectona Jati Permana, Selasa (3/11) mengatakan lima desa itu masing-masing Desa Kedungboto, Desa Kedungringin, Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji.

"Kemudian ada dua desa lagi yakni Desa Gempol dan Desa Legok, Kecamatan Gempol," katanya di Pasuruan.

Ia merinci, dari lima desa yang terdampak tersebut terdapat 6.119 kepala keluarga yang menjadi korban banjir. "Masing-masing di Desa Kedungboto sebanyak 750 KK, Kedungringin 2.450 KK, Cangkringmalang 1.025 KK, Legok 80 KK dan Gempol 1.814 KK," katanya.

Kepada para korban, pihaknya sudah menyiapkan perahu karet masing-masing satu unit di setiap kecamatan untuk membantu aktivitas warga yang ingin keluar rumah.

"Karena hanya pada hari pertama banjir warga memilih keluar rumah. Setelahnya balik lagi ke rumah masing-masing," katanya.

Ia menjelaskan, banjir itu salah satunya disebabkan okeh tingginya curah hujan yang terjadi di wilayah setempat selama beberapa hari terakhir saat awal musim hujan.

"Kami juga sudah membuka layanan dapur umum kepada masing-masing wilayah kecamatan untuk membantu warga dengan dibantu oleh instansi terkait lainnya seperti dinas sosial, dan juga dari unsur lainnya," ucapnya.

Semen itu, Rudi salah satu warga Gempol mengaku penanganan banjir di tempat tinggal lambat karena sudah rutin setiap tahun terjadi.

"Seharusnya dilakukan penanganan yang komprehensif di antaranya dengan mengaktifkan kembali Kali Mati yang selama ini digunakan sebagai resapan kalau terjadi banjir," katanya.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement