Senin 02 Nov 2020 12:59 WIB

Pengadaan Beras Bansos Tahap III, Jabar Gandeng Pesantren

Pemprov Jabar menggandeng berbagai pihak untuk pengadaan bansos.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih
Beras bansos. ilustrasi
Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Beras bansos. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerontah Provinsi Jawa Barat melibatkan pesantren dalam pengadaan beras bansos tahap ketiga. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar Mohamad Arifin Soedjayana, pelibatan banyak pihak dalam pengadaan bansos Jabar tahap III menghadirkan multiplier effect. Salah satunya, meningkatkan daya beli masyarakat.

Bansos Jabar tahap III berupa bantuan tunai dan nontunai senilai Rp 350 ribu. Rinciannya, bantuan tunai sebesar Rp 150 ribu, 5 kg beras kualitas premium, 1 kg gula pasir, 1 liter minyak goreng, 1 paket sarden, 1 paket kornet, 500 gram garam, 1 paket vitamin C, 5 buah susu kemasan kotak 200 ml, 4 buah masker, dan 1 buah tas.

Baca Juga

"Bansos Jabar tahap III dapat membantu menggerakkan roda ekonomi lokal dan salah satu bentuk upaya pemulihan ekonomi. Tujuh dari 10 komoditi paket nontunai bansos sebagian besar berasal dan produksi Jabar sehingga membantu tenaga kerja dan pelaku usaha Jabar," ujar Arifin, kepada wartawan, Senin (2/11).

Sedangkan uang tunai, kata dia, bisa dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Serta, turut membantu warung dan pedagang di sekitar masyarakat.

 

Menurut Arifin, dalam pengadaan beras, pihaknya melibatkan Pesantren Nurul Iman dengan menyerap hasil produksi paling sedikit 100 ton. Selain itu, hasil panen petani beras Jabar ditampung, serta melibatkan sekitar 20 penggilingan beras di Jabar.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar), kata dia, menggandeng peternak sapi perah untuk menyediakan komoditi susu UHT. Ada sekitar 17.500 peternak sapi perah terlibat dalam penyediaan komoditas susu dalam bansos provinsi tahap III.

"Untuk komoditi gula, kami menyerap hasil panen petani tebu di Subang dan Majalengka, paling sedikit sebanyak 200 ton," katanya.

Begitu juga, kata dia, dengan pengadaan komoditi garam. Pemprov Jabar, menyerap paling sedikit 400 ton hasil panen petani garam di Cirebon. "Termasuk pengadaan masker dan tas dengan memberdayakan UMKM di Jabar," katanya.

Sementara menurut Direktur Utama PT Agro Jabar selaku pengelola komoditi bansos Jabar tahap III, Kurnia Fajar, pengadaan sarden dan kornet sedikit berbeda karena kedua komoditi tersebut diproduksi di luar Jabar.

"Pelibatan dalam komoditi kornet dan sarden hanya sekitar 15 perusahaan. Salah satunya APPSI yang memiliki anggota sekitar 500 ribu. Sedangkan vitamin C karena berbentuk tablet, pengadaannya melalui farmasi TNI AD yang berada di Jabar," ucap Kurnia.

Kurnia menjelaskan, dalam proses pengemasan bansos Jabar tahap III, pihaknya menyerap sekitar 1.400 tenaga kerja harian di sekitar lokasi gudang milik PT Agro Jabar.

PT Agro Jabar menggunakan tujuh gudang dalam mengelola paket bansos Jabar tahap III. Ketujuh gudang itu berada di Bandung, Cirebon, Karawang, Garut, Tasikmalaya, Bogor, dan Cianjur.

"Program bansos ini harus dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Dari pada bermitra dengan perusahaan-perusahaan besar, kami memilih melibatkan banyak pelaku usaha dan UMKM di Jabar," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement