Jumat 23 Oct 2020 22:57 WIB

Lapas-Rutan di Bali Diwajibkan Sediakan Blok Khusus Isolasi

Seluruh lapas dan rutan di Bali diminta menyiapkan satu blok khusus isolasi Covid-19.

Lapas (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO
Lapas (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kemenkum dan HAM Bali Suprapto menyebutkan seluruh lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan negara di daerah itu wajib menyediakan satu blok khusus isolasi warga binaan yang positif Covid-19.

"Mencegah klaster lapas dan kita meminta seluruh lapas dan rutan menyiapkan satu blok khusus isolasi. Kita juga sudah mengantisipasi dengan membagikan untuk keperluan rapid test (tes cepat) di setiap lapas atau rutan," katanya saat dikonfirmasi di Denpasar, Jumat (23/10) malam.

Selama ini, pihaknya juga telah menyiapkan dan mengoptimalkan Rutan Bangli, sebagai tempat karantina khusus WBP yang positif Covid-19. Ia mengatakan bahwa Rutan Bangli sudah digunakan sejak beberapa waktu lalu. Sejak Rabu (21/10), beberapa WBP yang sudah menerima vonis pengadilan dibawa untuk isolasi di Rutan Bangli.

"Beberapa yang reaktif dan positif tetap diobati dan ditangani secara khusus di sana. Setelah membaik akan di bawa ke lapas masing-masing. Kapasitasnya 40-50 dengan bergantian, 14 hari keluar, setelah itu 14 hari kemudian ada yang masuk," katanya.

Untuk mengantisipasi penuhnya Rutan Bangli sebagai tempat karantina, petugas lapas juga melakukan pemilahan dan prioritas. Jika ada warga binaan, baik narapidana atau tahanan, dalam kondisi serius dan mengkhawatirkan maka segera ditangani ke tempat karantina yang disediakan pemerintah.

"Yang pasti kita koordinasikan dengan Dinkes Kabupaten Badung untuk tempat karantina yang sesuai disiapkan pemda. Karena saat ini saja fasilitas Dinkes dan pemda mulai penuh makanya di setiap lapas dan rutan disediakan satu blok khusus, dengan muatan bervariasi dari 15-40 orang seluruh wilayah di Bali," kata Suprapto.

Ia menjelaskan warga binaan yang masuk blok isolasi tidak diperkenankan beraktivitas di luar blok tersebut. Begitu juga warga binaan yang nonreaktif untuk tidak masuk area blok isolasi itu.

Selain itu, pihak klinik dalam lapas telah melakukan langkah-langkah inovasi dengan mendatangi langsung dan memeriksa kondisi di masing-masing blok.

"Mereka datang ke blok untuk memeriksa dan menanyakan kondisinya langsung. Tapi kalau biasanya itu, pihak klinik menunggu orang lapor ke klinik. Sekarang sudah mulai masuk ke dalam menanyakan keluhan-keluhan dan sambil memeriksa di blok ini. Langkah-langkah yang kita lakukan dalam rangka deteksi dini mengetahui lebih awal gejala-gejala tersebut dan langsung berkoordinasi dengan Dinkes," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement