Jumat 16 Oct 2020 05:50 WIB

Dinkes Surabaya Klaim Penderita Gangguan Refraksi Mata Turun

Jumlah pasien gangguan refraksi mata di Surabaya mengalami penurunan drastis

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Esthi Maharani
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita (kedua kanan)
Foto: Republika/Binti Sholikah
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita (kedua kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) yang biasa diperingati pada pekan kedua Oktober, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya merilis jumlah pasien gangguan refraksi mata yang ada di Kota Pahlawan. Kadinkes Surabaya Febria Rachmanita mengklaim, jumlah pasien gangguan refraksi mata di Surabaya mengalami penurunan drastis dibanding tahun sebelumnya.

Febria menjelaskan, pada 2019, jumlah pasien gangguan refraksi mata di Surabaya sebanyak 4.463 orang. Febria mengaku, pihaknya pun langsung mengambil sejumlah langkah preventif untuk menekan angka penderita. Pencegahan utamanya menyasar anak-anak dan lanjut usia.

“Jika dihitung dari awal Januari hingga Juli 2020, pasien gangguan refraksi mata yakni 2.665 orang. Penurunannya sangat signifikan,” kata Febria di Surabaya, Kamis (15/10).

Febria menjelaskan, strategi dan upaya penanggulangan yang dilakukan. Di antaranya, mengindetifikasi wilayah dan kelompok masyarakat yang berisiko mengalami gangguan refraksi. Menurutnya, upaya penanggulangan yang dilakukannya kali ini adalah menyasar anak-anak di usia sekolah dan lanjut usia (lansia).

“Kita menyasar ke pelajar SD-SMP. Usia rata-rata dari 7–15 tahun. Kemudian langkah kedua, mengembangkan surveilans deteksi dini gangguan refraksi yang dilakukan oleh kader dan rujukan ke Puskesmas,” ujarnya.

Upaya lain yang dilakukan adalah melatih kader indera, serta melakukan kerja sama dengan Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) untuk mendeteksi dini kelainan refraksi mata. Di sisi lain, jajaran Dinkes juga memberikan diseminasi komunikasi, informasi, serta edukasi melalui para kader, petugas kesehatan, dan sekolah.

“Penyebaran informasi itu sangat penting. Apalagi para kader, Puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat,” kata Febria.

Febria mengungkapkan, pihaknya juga melakukan skrining mata serta penanggulangan gangguan indera termasuk kelainan refraksi. "Jadi harus terus dan selalu dalam pantauan. Kami juga menggandeng Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami). Kemudian ada RS Bakti Dharma Husada (BDH) dan RSUD dr. Soewandhie,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement