Selasa 13 Oct 2020 06:13 WIB

Prabowo Sebut Massa Penolak UU Ciptaker Termakan Hoaks

Prabowo mengatakan, hoaks yang mengiringi UU Ciptaker dari luar negeri.

Rep: Nawir Arsyad Akbar / Red: Ratna Puspita
Menhan Prabowo Subianto
Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Menhan Prabowo Subianto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan Prabowo Subianto buka suara perihal gelombang penolakan Undang-Undang Cipta Kerja, yang berujung dengan demonstrasi pada Kamis (8/10). Menurutnya, banyak peserta aksi belum membaca regulasi tersebut dan termakan hoaks yang ada.

"Banyak sekarang ini yang kemarin demo itu belum baca hasil omnibus law itu dan banyak hoaks. Banyak hoaks di mana-mana seolah ini tidak ada, itu tidak ada," ujar Prabowo dalam sebuah video wawancara yang dilansir DPP Partai Gerindra, Senin (12/10) malam.

Baca Juga

Prabowo mengatakan, hoaks yang mengiringi UU Cipta Kerja bertujuan menimbulkan kekacauan di dalam negeri. Bahkan, ia menyebut, dalangnya berasal dari luar negeri.

"Ada kekuatan-kekuatan asing, ada negara-negara tertentu di dunia yang tidak pernah suka Indonesia aman dan maju," ujar Prabowo.

Hal ini terlihat ketika ada oknum yang memanfaatkan aksi tolak UU Cipta Kerja, untuk merusak fasilitas umum. Padahal, fasilitas-fasilitas tersebut dibangun dengan uang rakyat untuk membantu masyarakat.

"Ini pasti ada dalangnya. Ini pasti anasir-anasir ini, ini pasti anasir yang dibiayai asing. Tidak mungkin seorang patriot mau bakar milik rakyat," ujar Prabowo.

Di samping itu, ia menegaskan, UU Cipta Kerja yang dipelopori Presiden Joko Widodo memiliki tujuan yang baik. Salah satunya, mengurangi hambatan-hambatan yang bisa membuat lambat kebangkitan ekonomi di Indonesia.

Apalagi, Indonesia saat ini tengah diterpa pandemi Covid-19 yang berdampak negatif ke semua sektor. Buruh juga menjadi salah satu yang terdampak dari keadaan yang terjadi saat ini.

"Jadi ini kadang-kadang suatu dilema, katakanlah buah simalakama. Kita mau bantu buruh sekarang dan semua yang sulit tidak hanya buruh," ujar Ketua Umum Partai Gerindra itu. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement