Sabtu 12 Sep 2020 23:11 WIB

Giliran Stafsus Presiden Jokowi Sindir Rem Mendadak Anies

Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono, pertanyakan

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Nashih Nashrullah
Pengunjung beraktivitas di area Dunia Fantasi di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Sabtu (12/9). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menutup sejumlah tempat rekreasi diantaranya Ancol, Ragunan, Monas, dan Taman Mini Indonesia Indah pada pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara total 14 September 2020 mendatang. Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung beraktivitas di area Dunia Fantasi di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Sabtu (12/9). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menutup sejumlah tempat rekreasi diantaranya Ancol, Ragunan, Monas, dan Taman Mini Indonesia Indah pada pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara total 14 September 2020 mendatang. Republika/Thoudy Badai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono, mempertanyakan "rem mendadak" yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Hal tersebut dia sampaikan melalui akun media sosial pribadinya.

 

Baca Juga

"Rem mendadak? Oh, mungkin kemarin nyetirnya ugal-ugalan. Ya kita semua siap-siap saja ya pake sabuk pengaman," unggah Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) itu di akun Instagramnya, @diaz.hendropriyono, Sabtu (12/9).

 

Tulisannya tersebut diunggah dengan keterangan Ketum PKPI dan tagar #JustThinking #PKPI. Masih dalam unggahan yang sama, ia pun berharap agar "rem\" yang hendak ditarik itu tidak blong. "Semoga remnya nggak blong," kata dia.

 

Juru Bicara PKPI, Sonny Tulung, ikut berkomentar terkait unggahan yang kerap disapa Masbos itu. Sonny tak menampik unggahan Diaz itu ditujukan untuk mengingatkan Anies sebagai kepala daerah.

 

"Setuju dengan Ketum Masbos, jangan sampai kesalahan Anies terulang soal PSBB, lebih hati-hati lagi menyetir," kata Sonny saat dikonfirmasi, Sabtu (12/9).

 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya menarik rem darurat yang mencabut kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi dan memberlakukan kembali PSBB secara total. PSBB total akan diberlakukan mulai Senin (14/9).

 

"Dengan melihat keadaan darurat ini di Jakarta, tidak ada pilihan lain selain keputusan untuk tarik rem darurat. Artinya kita terpaksa berlakukan PSBB seperti awal pandemi. Inilah rem darurat yang harus kita tarik," kata Anies dalam keterangan pers yang disampaikan di Balai Kota Jakarta, Rabu (9/9) malam.

 

Prediksi akan habisnya kapasitas tempat tidur dan ruang rawat sejumlah rumah sakit (RS) khusus penanganan Covid-19 menjadi salah satu alasan utama Anies menarik tuas rem darurat dan memberlakukan PSBB total.

Meskipun Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang besar dengan 67 RS rujukan, jumlah dokter yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional, saat ini sudah melebihi ambang batas kerawanan sebesar 80 persen dari ketersediaan. "Namun ambang batas sudah hampir terlampaui, dan tak lama lagi pasti akan over kapasitas," kata Anies.

 

Reaksi pun muncul atas keputusan itu, salah satunya dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Dia menilai pengumuman pemberlakuan kembali PSBB total oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berimbas pada pasar keuangan.

 

Menurutnya, kebijakan 'rem darurat' yang diumumkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Rabu (9/9) itu menyebabkan volatilitas pasar keuangan meningkat pada pagi ini.

 

Airlangga mengatakan, sebenarnya, kinerja pasar keuangan sebenarnya sudah menunjukkan arah positif sejak beberapa pekan terakhir dibandingkan April. Indeks saham sektoral mengalami penguatan pada sebagian besar sektor dengan variasi kenaikan hingga di atas 20 persen.

 

Tapi, kinerja tersebut berubah pada indeks saham Kamis (10/9) pagi. "Hari ini, indeks masih ada ketidakpastian akibat daripada announcement Gubernur DKI tadi malam. Sehingga, pagi tadi, indeks sudah di bawah 5.000," tutur Airlangga dalam Webinar Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Kamis (10/9).

 

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga menekankan, 'gas' dan 'rem' sebaiknya tidak dilakukan secara mendadak. Karena, menurutnya, langkah itu bisa berimbas pada kepercayaan dari publik dan investor. "Ekonomi tidak semuanya tentang faktor fundamental, tapi juga sentimen keuangan, terutama di sektor capital market," katanya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement