Kamis 03 Sep 2020 13:44 WIB

Kendalikan OPT, Kementan Genjot Produktivitas Kelapa

Ini dilakukan oleh Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak.

Pemasangan alat yang berfungsi untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman kelapa.
Foto: Dok. Kementan
Pemasangan alat yang berfungsi untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman kelapa.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan produktivitas aneka komoditas hasil pertanian. Selain memenuhi kebutuhan, peningkatan produktivitas juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani.

Hal ini pula yang dilakukan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak. Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Perkebunan ini sejak Juli lalu aktif melakukan pendampingan kepada petani dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman kelapa.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo pada kunjungannya ke Provinsi Maluku akhir Mei lalu. Mentan meminta jajarannya agar sigap melakukan pendampingan dan terus berupaya menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan serta peningkatan produksi maupun produktivitas komoditas pertanian termasuk perkebunan. 

“Tingkatkan nilai tambah, daya saing dan keunggulan setiap komoditas pertanian, harus memperkuat sektor hulu dan mengembangkan sektor hilir sehingga ada nilai tambah,” ujar Mentan Syahrul dalam keterangannya, Kamis (3/9).

Tidak dapat dimungkiri, keterbatasan petani dalam pengendalian OPT jadi penyebab menurunnya produktivitas tanaman. Salah satu OPT penting yang menyebabkan penurunan produktivitas kelapa adalah kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). 

Untuk itu, BPTP Pontianak mengadakan demplot pengendalian kumbang tanduk bersama Kelompok Tani Nyiur Nusantara, di Dusun Makraga, Desa Parit Baru Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas. Selain para petani dari Kelompok Tani Nyiur Nusantara, kegiatan ini diikuti pula Kepala Desa Parit Baru, Kepala BPP Kecamatan Salatiga, PPL Parit Baru, tim BPTP Pontianak, Koordinator dan Petugas Unit Pembinaan Perlindungan Tanaman (UPPT) Pemangkat.

Kepala Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak, Sajarwadi mengungkapkan, pelatihan yang diberikan kepada petani kelapa menggunakan metode demonstrasi plot (demplot). Kegiatannya berupa pemberian percontohan kepada pekebun tentang cara pengendalian kumbang tanduk secara terpadu. 

“Kegiatan ini merupakan tahap pertama dari rangkaian kegiatan demplot pengendalian kumbang tanduk pada tanaman kelapa,” katanya. 

Pada kegiatan tahap pertama ini, tutur Sajarwadi, Tim BPTP Pontianak mengadakan sosialisasi tentang pengenalan OPT Tanaman Kelapa yang difokuskan pada kumbang tanduk beserta cara pengendaliannya. Selanjutnya diberikan percontohan salah satu cara pengendalian kumbang tanduk dengan penggunaan perangkap feromon. 

Tahap lanjutan kegiatan adalah pengamatan dari penggunaan perangkap feromon dan pemanfaatan jamur Metarhizium anisopliae untuk mengendalikan larva kumbang tanduk yang akan dilaksanakan sebulan setelah kegiatan ini. 

Kegiatan tersebut, kata Sajarwadi, dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada para pekebun tentang makna dari OPT tanaman kelapa, termasuk pengertian hama, pernyakit, dan teknik pengendaliannya. 

"Selain itu, juga ditekankan bahwa pengendalian OPT tidak efektif jika hanya dilakukan dengan satu cara saja dan individu, hanya di satu kebun tertentu, melainkan dengan berbagai cara atau disebut juga pengendalian hama/penyakit secara terpadu dan dilakukan secara serentak,” katanya.

Pada kegiatan ini turut dilaksanakan praktek pengamatan serangan kumbang tanduk dan pemasangan feromon trap. Feromon yang digunakan merupakan feromon sintetis dengan kandungan bahan kimia etil-4 metil oktanoat. Feromon tersebut efektif untuk mengendalikan hama kumbang tanduk dewasa dengan radius sekitar 2 Ha. Lahan yang dipilih menjadi lokasi demplot merupakan milik anggota kelompok tani Nyiur Nusantara dengan luas lahan sekitar 5 Ha. 

Dari kegiatan tersebut, diketahui tanaman kelapa yang terserang kumbang tanduk rata-rata tanaman muda dengan usia tanam 3-8 tahun. Berdasarkan pengamatan kasar intensitas serangan kumbang tanduk di lokasi tersebut sudah masuk dalam kategori serangan berat karena intensitasnya sudah diatas 20 persen. 

Perangkap feromon dipasang pada tiang kayu dengan ketinggian 3-4 meter dengan harapan senyawa feromon akan efektif terbawa udara dan mengundang kumbang tanduk untuk masuk ke perangkap. 

Pada kesempatan tersebut, Sajarwadi mengajak para pekebun kelapa untuk berpartisipasi aktif dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pengendalian OPT dapat menerapkannya dalam menjaga kebersihan kebun masing-masing.

Sajarwadi menambahkan, di era New Normal (kebiasaan baru) akibat pandemi Covid-19, kegiatan pelatihan ini tentunya dilaksanakan dengan mengikuti prosedur protokol Covid-19 seperti mencuci tangan sebelum kegiatan, pengecekan suhu tubuh peserta kegiatan, memakai masker, dan menjaga jarak (physical distancing).

“Diharapkan dengan adanya kegiatan demplot ini dapat meningkatkan skill dan pengetahuan pekebun sehingga tanaman terjaga, produksi kelapa terjaga, stabilitas perekonomian pekebun terjaga, terlebih dalam masa pandemi Covid-19 ini,” kata Sajarwadi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement