Kamis 27 Aug 2020 18:51 WIB

Perajin Pot Sabut Kelapa Kebanjiran Order

Sabut itu dicetak sesuai dengan model yang telah dibuat.

Petani memisahkan sabut dengan buah kelapanya (ilustrasi)
Foto: Antara/Basri Marzuki
Petani memisahkan sabut dengan buah kelapanya (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perajin pot dari bahan baku sabut kelapa di Desa Besuk, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, banjir pesanan.

"Kebetulan omzet meningkat tajam, banyak sekali karyawan pabrik, pekerja kantor yang bekerja dari rumah. Peningkatan sekitar 100 persen dari sebelum pandemi COVID-19," kata Yuliantoro, perajin pot bunga dari bahan sabut kelapa di Desa Besuk, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Kamis.

Baca Juga

Ia mengaku sudah merintis usaha ini sejak 2018. Awalnya, modal yang digunakannya adalah Rp600 ribu yang dibelikan bahan baku membuat pot. Kemudian, pot tersebut berhasil terjual dan usaha yang dirintisnya berkembang hingga sekarang.

Ia mengaku bersyukur usahanya berkembang. Dengan itu, para pekerja juga bisa mendapatkan pemasukan yang lebih banyak, sehingga bisa menambah penghasilan keluarga.

Yuli mengaku, usaha ini dibangunnya setelah melihat banyak limbah sabut kelapa yang tidak terpakai. Ia belajar otodidak membuat pot dari bahan sabut kelapa.

Awalnya, sabut kelapa dihancurkan dengan mesin dan setelah jadi disaring. Untuk sabut dari hasil saringan itu kemudian dijadikan bahan baku pot.

Sebelumnya juga disiapkan cetakan pot dan satu per satu sabut kelapa dimasukkan. Sabut itu dicetak sesuai dengan model yang telah dibuat.

Hingga saat ini, sudah terdapat 18 orang yang membantunya membuat kerajinan pot tersebut. Selain dibuat di belakang rumah miliknya yang difungsikan sebagai tempat mengolah kerajinan, para pekerja juga diizinkan untuk membuat kerajinan di rumah masing-masing dan diambil saat sudah selesai.

Permintaan juga dari berbagai daerah seputar Jawa Timur seperti Ponorogo, Madiun, Malang, Banyuwangi, hingga Surabaya. Selain itu, permintaan dari luar kota seperti Jawa Tengah antara lain dari Solo, Yogyakarta, Semarang, hingga Klaten. Jika sebelum pandemi COVID-19, setiap pekan bisa mengirimkan sekitar 2.000 hingga 3.000 pot, saat pandemi bisa mengirim antara 4.000 hingga 5.000 pot setiap pekan.

Untuk harga, ia mengatakan juga relatif terjangkau mulai dari Rp8.000 hingga ratusan ribu. Harga tersebut tergantung dari besaran pot yang dibuat serta model.

"Yang dominan pot model ditempel. Kadang kan di perumahan itu minim ruang, jadi banyak yang pot untuk model tempel. Harganya mulai dari pot kecil Rp8.000, ada yang Rp10.000, ada yang Rp15.000. Yang paling besar pernah antara harga Rp400 ribu hingga Rp500 ribu," kata dia.

Ia mengatakan, omzet jualannya juga relatif bagus, per bulan sekitar Rp40 juta. Saat ini, dirinya membuat hingga tujuh model pot bunga. Ke depannya, ia ingin membuat model lain dengan menggunakan bahan baku sabut kelapa.

Di pasar luar negeri, lanjut banyak usaha yang kini memanfaatkan bahan baku sabut kelapa. Bahan itu selain bisa dibentuk menjadi pot bunga, juga menjadi bahan baku pembuatan jok mobil bahkan jok pesawat terbang. Daya lentur yang sangat baik, tahan lama, tidak berbau, dan memiliki tingkat pencemaran yang sangat rendah menjadi faktor bahan baku ini disukai.

Nuning, salah seorang pekerja mengaku senang bisa bekerja di tempat ini. Ia bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk membantu ekonomi keluarga.

"Alhamdulillah hasilnya mampu membantu perekonomian keluarga," kata Nuning.

Sementara itu, Pemkab Kediri juga terus mendukung penuh usaha warganya. Selain pelatihan, pemkab juga memberikan media untuk para pemilik UMKM mengenalkan produknya, dengan promosi yang dilakukan dinas terkait.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement