Rabu 26 Aug 2020 00:38 WIB

Pemerintah Pesan Vaksin China-UEA, Cocokkah?

Pemesanan dilakukan untuk mengantisipasi belum produksinya vaksin merah-putih.

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Friska Yolandha
Mengapa Vaksin Itu Penting?
Foto: UGM
Mengapa Vaksin Itu Penting?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia baru saja meneken komitmen pengadaan 290 juta vaksin dari China dan Uni Emirat Arab, untuk periode 2020-2021. Vaksin impor tersebut sengaja dipesan untuk mengantisipasi vaksin merah putih, alias vaksin yang diproduksi secara mandiri oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, belum bisa produksi massal dalam waktu dekat.

Namun sebagian kalangan mengkhawatirkan efektivitas vaksin yang uji klinisnya dilakukan di luar negeri tersebut. Apakah vaksin asal China dan UEA cocok dipakai di Indonesia?

Baca Juga

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebutkan bahwa strain virus yang berbeda antara Covid-19 di China dan Indonesia, tak lantas membuat efektivitasnya menghilang. Artinya, vaksin Covid-19 yang dibuat dengan strain virus corona di China belum tentu tak mempan untuk vaksinasi masyarakat Indonesia.

"Dan tidak serta merta strainnya berbeda, lantas vaksinnya tidak efektif. Nanti akan kami jelaskan lebih detail. Dengan penjelasan dari para ilmuwan pada saat kita sudah dapatkan informasi lebih jelas," kata Wiku dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Selasa (25/8).

 

Wiku tidak menjelaskan lebih jauh secara ilmiah mengenai hal ini, namun ia menekankan bahwa para ilmuwan dalam negeri akan memastikan efektivitas vaksin Covid-19 asal China dan UEA sebelum diaplikasikan kepada masyarakat Indonesia. Wiku pun meminta masyarakat ikut mengawal uji klinis tahap ketiga yang saat ini sedang berlangsung untuk vaksin kerja sama China-Bio Farma, dan uji klinis yang dilakukan negara-negara lain.

"Apabila strain virus di China berbeda dengan Indonesia, ini pasti akan kita buktikan secara bersama-sama. Para ilmuwan di Indonesia akan memastikan tentang virus yang beredar di Indonesia apakah beda dengan negeri asal di mana vaksin ini dikembangkan," kata Wiku.  

Kerja sama dengan beberapa negara di luar negeri memang dilakukan pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan vaksin Covid-19 secara cepat. Selain vaksin yang sedang disiapkan oleh Bio Farma dan Sinovac dari China, Indonesia juga melakukan riset secara mandiri yang dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Di luar dua proyek tersebut, masih ada kerja sama lain yang dijalin antara perusahaan farmasi nasional dan luar negeri. Antara lain, Kalbe Farma dengan Genexine asal Korea Selatan. Vaksin yang ditargetkan masuk uji klinis tahap kedua pada akhir 2020 ini berjuluk 'GX-19'.

Kemudian ada juga Kimia Farma yang bekerja sama dengan Group42, perusahaan riset berbasis di Abu Dhabi. Riset vaksin bersama Group42 ini juga menggandeng Sinopharm, sebuah pabrikan produk farmasi asal China.

Selain itu, pemerintah juga masih menjajaki kerja sama dengan perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement