Senin 27 Jul 2020 18:36 WIB

Tak Ada Frekuensi Radio, Siswa Sikka tak Bisa Belajar

Siswa Sikka hanya bisa membantu orang tua berkebun setiap hari.

Tak Ada Frekuensi Radio, Siswa Sikka tak Bisa Belajar. Ilustrasi
Foto: Antara/Kornelis Kaha
Tak Ada Frekuensi Radio, Siswa Sikka tak Bisa Belajar. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Sejumlah orang tua wali murid di Kampung Todang Ili Gai, Desa Hokor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT mengeluh karena anak-anak mereka tak bisa mengikuti pelajaran melalui radio akibat tak adanya frekuensi radio yang sampai ke daerah itu.

Warga Dusun Todang, Desa Hokor Paulus Moa (56 tahun) mengatakan untuk jaringan telepon ada, tetapi untuk jaringan internet serta frekuensi radio tak ada sama sekali. Anak-anak di kampung itu sama sekali tak bisa merasakan aktivitas belajar melalui radio seperti yang dirasakan oleh anak-anak lainnya. Seluruh warga yang tinggal di kampung itu pekerjaannya sebagai petani, penghasilan pas-pasan sehingga walaupun ada frekuensi warga setempat tak mampu juga membeli radio.

Baca Juga

"Ya walaupun ada jaringan atau frekuensi radio, kami juga tak bisa membeli radio karena penghasilan kami pas-pasan saja, sehingga dengan program dari Pemkab Sikka ini jujur saya dan warga di sini khususnya anak-anak kami tak bisa belajar seperti biasanya," katanya, Senin (27/7).

Ia mengatakan untuk sampai ke desa itu, warga kampung harus berjalan kurang lebih 13 kilometer dan harus melintasi perbukitan. Hanya jalan setapak yang ada di jalur tersebut karena memang kampung itu dikelilingi hutan lindung.

Paulus mengatakan anak-anak mereka saat ini hanya bisa berada di rumah saja. Jika tak ada aktivitas belajar-mengajar di sekolah, maka anak-anak di kampung itu hanya bisa membantu orang tuanya berkebun.

"Ya mau bagaimana lagi. Keadaan kami seperti ini. Kami juga berharap anak-anak kami bisa sekolah seperti biasa lagi, tetapi mau bagaimana lagi," ujar dia.

Paulus pun dan warga di kampung itu sendiri memang juga sudah berharap agar pandemi Covid-19 ini cepat berakhir sehingga aktivitas sekolah bisa kembali terlaksana seperti biasa. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka, Mayela da Cunha mengatakan memang ada beberapa daerah di kabupaten itu yang tak mendapatkan frekuensi radio.

"Tetapi saat ini kami sedang berusaha menambah repiter sehingga semua daerah di pelosok kabupaten Sikka juga dapat mendengarkan siaran radio," ujar dia.

Bagi yang tak mendapatkan siaran radio, para guru akan menyalin materi yang ada kemudian dibagikan kepada para murid. Selain itu, guru juga akan merekam video sehingga bisa ditonton para murid di daerah terpencil.

 

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement