Sabtu 18 Jul 2020 22:26 WIB

Warga Donggala Ikuti Simulasi Pengurangan Risiko Bencana

Simulasi ini merupakan proses untuk membangun kapasitas masyarakat hadapi bencana.

Kawasan Pelabuhan Rakyat yang terdampak tsunmai di Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah. KM Sabuk Nusantara IV yang terhempas ke darat kini sudah diturunkan ke laut kembali.
Foto: Basri Marzuki/Antara
Kawasan Pelabuhan Rakyat yang terdampak tsunmai di Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah. KM Sabuk Nusantara IV yang terhempas ke darat kini sudah diturunkan ke laut kembali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Arsitek komunitas atau Arkom Indonesia Wilayah Sulawesi Tengah, dampingi warga di Kabupaten Donggala khususnya di Desa Wani II, Kecamatan Tanantovea, untuk mitigasi menghadapi bencana alam.

"Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, yang akan datang dan pelajaran bagi masyarakat yang terdampak langsung di bencana 28 September 2018," kata Direktur Pelaksana Arkom Indonesia, Yuli Kusworo, di Wani, Sabtu (18/7).

Arkom Indonesia Wilayah Sulteng bekerjasama dengan forum pengurangan risiko bencana Desa Wani II, melakukan simulasi pengurangan risiko bencana gempa dan tsunami, pada Sabtu (18/7).

Kegiatan itu melibatkan masyarakat setempat, dihadiri Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Donggala.

Yuli mengemukakan, simulasi ini merupakan proses untuk membangun kapasitas masyarakat Desa Wani II, untuk menghadapi bencana.

"Proses sudah dilakukan sejak Februari 2020, yang mana salah satunya yakni melakukan kajian risiko bencana melibatkan warga di lima dusun," ungkap dia.

Ia menerangkan, sebelum dilakukan simulasi, terlebih dahulu didahului dengan kajian risiko bencana.

Dalam kajian risiko yang dilakukan warga dan forum pengurangan risiko bencana bersama Arkom, diperoleh adanya ancaman bencana, yang paling dahsyat yakni gempa bumi dan tsunami.

"Warga memilih simulasi yang dilakukan yakni silmulasi gempa dan tsunami, karena hari ini merupakan simulasi paling berat yakni tsunami dan gempa," sebutnya.

Dalam proses simulasi itu, warga sudah harus masuk dalam model kesiapsiagaan. Harapannya apa yang telah dilakukan di Desa Wani II, bisa juga dilaksanakan di desa-desa lain yang menjadi wilayah dampingan Arkom, seperti Desa Tompe.

Berkaitan dengan itu, fasilitator pendamping pengurangan risiko bencana Arkom Indonesia, Zela Septikasari mengemukakan simulasi tersebut menjadi puncak dalam pembentukan desa tanggap bencana untuk pengurangan risiko bencana.

Zela mengatakan pihaknya sebelum simulasi telah melaksanakan kegiatan kajian risiko bencana, sistem peringatan dini bencana, rencana aksi dan rencana kontigensi dan simulasi bencana yang difokuskan pada gempa bumi dan tsunami.

Arkomjuga melangsungkan peletakan batu pertama untuk pembangunan gedung evakuasi Desa WaniII.

.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement