Jumat 17 Jul 2020 20:28 WIB

Penduduk Pedesaan Dinilai Lebih Mudah Survive Selama Pandemi

Masyarakat pedesaan memiliki budaya cara bertahan hidup di tengah paceklik

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sejumlah warga melintasi jalan pedesaan Tlogomulyo, Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Masyarakat pedesaan memiliki budaya cara bertahan hidup di tengah paceklik termasuk pandemi covid-19
Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Sejumlah warga melintasi jalan pedesaan Tlogomulyo, Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Masyarakat pedesaan memiliki budaya cara bertahan hidup di tengah paceklik termasuk pandemi covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi COVID-19 diperkirakan akan mendorong angka kemiskinan pada tahun 2020. Namun, penduduk pedesaan dinilai memiliki daya survival selama masa sulit ini.

Menurut Pendiri Sekolah Pagesangan Gunung Kidul, Diah Widuretno, masyarakat pedesaan selama ratusan tahun telah memiliki cara bertahan hidup selama paceklik.

"Selama pandemi mereka mengembangkan sistem manajemen pangan di masa paceklik. Hal ini sebenarnya kekayaan yang dimiliki setiap daerah yang tidak bisa diukur dengan indikator kemiskinan nasional," ujar Diah Widuretno dalam diskusi Kemiskinan Ekstrem dan Oligarki Ekonomi di Masa Pandemi, Jumat (17/7).

Menurut Diah, masyarakat pedesaan tidak perlu beras untuk bisa bertahan hidup. Malahan mereka terbiasa mengembangkan pangan lokal untuk bertahan selama masa panceklik. Seperti di Gunung Kidul, tiwul menjadi pangan khas lokal mereka, dan selama ini mereka terbiasa memakan itu untuk bertahan hidup.

Ia menilai, adanya penyamarataan label kemiskinan di seluruh daerah justru adalah awal dari menurut kami labeling itu awal dari kemiskinan. Padahal, tidak semua daerah memiliki kondisi yang sama dalam ekonomi pedesaan mereka.

Umumnya mereka mengkonsumsi pangan lokal, namun karena penyamarataan label kemiskinan, mereka dianggap kategori miskin dan diberi bantuan pemerintah seperti raskin. Akibatnya, mereka ketergantungan dengan bantuan pemerintah seperti raskin.

Indikator kemiskinan tidak bisa dikenali langsung dengan kacamata orang luar, yang kemudian melabeli dan menyimpulkan. Diah menilai, perspektif masyrakat setempat harus didengar, perlu proses partisipatif untuk identifikasi akar persoalan disana.

"Ekonomi pancasila itu sangat mengakui kebhinekaan, mengakui lokalitas, di setiap lokal punya sistem pangan. Ini yang tidak dilihat dari indikator-indikator yang diterapkan secara nasional," kata Diah. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement