Sabtu 04 Jul 2020 20:25 WIB

Jalan Bombana-Konawe Selatan Mulai Rusak

Kerusakan diduga akibat aktivitas kendaraan besar muatan melebihi tonase.

Jalan Rusak (Ilustrasi)
Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Jalan Rusak (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat di dua wilayah kabupaten (Bombana dan Konawe Selatan), Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai mengeluhkan beberapa jalan provinsi dan jalan nasional mulai rusak, yang diduga karena aktivitas kendaraan besar muatan yang melebihi tonase dari Pelabuhan Kendari ke wilayah tersebut.

"Selama lebih dari satu bulan terakhir ini, aktivitas kendaraan roda 10 yang memuat gula pasir curah dari pelabuhan Nusantara Kendari, menuju Bombana melalui wilayahKonawe Selatan, dengan daya muat rata-rata berkisar 25 hingga 28 ton setiap kendaraan. Inilah penyebab rusak sejumlah jalan di wilayah ini," kata Sulaiman, salahseorang tokoh masyarakat di Bombana, Sabtu (4/7).

Ia mengatakan, jalan nasional dari dan ke Bombana-Konawe Selatan, tepatnya di wilayah PPA yang membelah kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) itu kinimulai retak dan sebagian aspalnya sudah rusak akibat kendaraan yang bebannya berat saat melintas di kawasan itu.

Bahkan kata Sulaiman, baru-baru ini terjadi kecelakaan yang mengakibatkan pengendara motor meninggal dunia bersama anaknya, karena menabrak kendaraantruk pengangkut gula mentah milik PT Jhonlin Batu Mandiri berhenti di tepi jalan.

Sebelumnya, anggota DPRD Sultra daerah pemilihan Konawe Selatan-Bombana, Abdul Rahman Rahim mengatakan, keberadaan salah satu perusahaan PT Jhonling di Kabupaten Bombana dengan aktifitas melakukan packing gula pasir hasil impor sebaiknya dilakukan evaluasi menyeluruh.

Politisi Partai Golkar itu mengungkapkan bahwa dengan hadirnya PT Jhonling dengan memobilisasi gula rafinasi dari Pelabuhan Nusantara Kendari ke Bombana telahmenimbulkan banyak dampak. Salah satunya adalah kerusakan jalan yang di lintasinya, baik itu jalan nasional, provinsi ataupun jalan Kabupaten.

“Yang pasti bahwa keberadaan yang beroperasi di Kabupaten Bombana ini harus di evaluasi. Mulai izin pendirian pabrik, apakah sudah ada Analisis dampak Lingkungannya,surat izin penggunaan jalan umum dan lainnya. Karena semua itu di lembaga DPRD ini belum diketahui keberadaan PT Jhonling,“ ujarnya.

Menurut dia, tingkat mobilitas pengangkutan gula pasir dari pelabuhan Kendari menuju Bombana tersebut telah menggangu arus transportasi umum dan menimbulkan rawankecelakaan. Selain itu tingkat kerusakan jalan akibat muatan yang melebihi tonase juga cukup signifikan.

“Saya selaku wakil rakyat sudah sering sekali mendapat aspirasi terkait kerusakan jalan di Konsel dan Bombana. Salah satu penyebabnya karena keberadaan mobilitss gulayang diangkut oleh PT Jhonling,“ katanya.

Ia juga meminta kepada Pemerintah Provinsi, termasuk pihak PT Jhonling kiranya untuk di evaluasi. Jika memenuhi syarat perizinannnya, sebaiknya jalan umum untuk tidakdigunakan sebagai jalur lintas angkutan gula.

"Kalau tidak memenuhi syarat, sebaiknya keberadaan perusahaan ini untuk dihentikan sementara sampai adanya pelabuhan khusus. Kami tidak melarang adanya investasi,tetapi investasi tersebut tidak mengganggu aktifitas lain,” pintanya.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement