Senin 29 Jun 2020 18:54 WIB

Turki-Mesir di Ambang Perang di Libya!

Perang antara Mesir dan Turki bisa memperlemah persatuan umat dan negara-negara Islam

Ikhwanul Kiram Mashuri
Foto:

Menurut Dr Gabriel al Obaidi, penulis dan akademisi Libya, siapa pun yang mengendalikan Sirte dan al Jufra akan memiliki tujuan berikut, yaitu menguasai timur Libya. Hal ini tentu bisa mengancam keamanan Mesir di perbatasan baratnya, yang membentang sekitar 1.200 kilometer.

Sementara Munir Adib, pakar gerakan ekstremis dan terorisme internasional, mengatakan, al-Jufra adalah wilayah terdekat di Libya selatan dengan Mesir, sehingga kehadiran milisi ekstremis di sana bisa membuat ancaman nyata bagi keamanan Mesir.

Sejumlah pihak menyebut, pernyataan keras Presiden Mesir sebagai penabuh genderang perang. Berbagai media dan lembaga pertahanan internasional pun memberi ulasan.

Mereka sepakat ancaman Presiden Sisi sebenarnya ditujukan kepada Turki, tepatnya Presiden Recep Tayyib Erdogan, meskipun ia tidak menyebut nama orang atau negara tertentu. Berkat dukungan langsung militer Turki, pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya kini memang sedang 'di atas angin'.

Beberapa pihak lalu membandingkan kekuatan militer Turki yang berada di peringkat 9 dan Mesir di peringkat 11 dalam peta kekuatan militer di dunia. Bila benar-benar terjadi perang, lalu siapa yang menang?

Kemudian apakah kedua negara itu akan perang total atau perang kecil-kecilan melalui kelompok-kelompok di Libya? Bagaimana akibatnya bagi kawasan Timur Tengah dan dunia internasional? Lalu negara-negara mana saja yang akan menjadi sekutu kedua belah pihak?

Dalam tulisan ini saya tidak ingin ikut meramaikan kemungkinan perang antara Mesir dan Turki. Saya lebih menyoroti mengenai penyebab perseteruan antara Mesir dan Turki yang kemudian berkembang ke saling ancam di medan perang di Libya.

Perseteruan Turki dengan Mesir, atau tepatnya Presiden Erdogan dengan Presiden Sisi, sebetulnya bermula dari masalah politik. Erdogan, yang merupakan pendukung Ikhwanul Muslimin (IM), mengecam keras pengambilalihan kekuasaan oleh Jenderal Sisi dari Presiden Muhammad Morsi pada 2013.

Hingga sekarang, Erdogan menyebutnya sebagai kudeta militer terhadap pemerintahan yang sah dan terpilih secara demokratis. Morsi adalah presiden dari IM. Di lain pihak, Presiden Sisi menyebut pengambilalihan kekuasaan itu justru untuk menyelamatkan bangsa Mesir dari perang saudara.

Ia kemudian membubarkan IM dan menganggap mereka sebagai kelompok teroris terlarang. Mesir juga menuduh Turki Erdogani sebagai pelindung para tokoh teroris IM.

Perseteruan politik Turki-Mesir ini terus berlanjut ke perang saudara yang kini berlangsung di Libya. Turki Erdogani mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional atau GNA di Tripoli. Sementara itu, Mesir mendukung Tentara Nasional Libya alias LNA yang bermarkas di Tobruk.

Mesir menuduh GNA sebagai teroris yang didukung oleh teroris. Tuduhan ini merujuk pada GNA dan Turki Erdogani yang berhaluan IM yang dianggap teroris oleh Mesir. Sebaliknya, Turki menuduh LNA sebagai kelompok kudeta yang didukung pemerintah hasil kudeta.

Perseteruan Mesir-Turki di Libya juga melibatkan negara pendukung masing-masing. Bersama Mesir ada Saudi, UEA, dan Rusia. Sedangkan, Turki didukung oleh Qatar. Masing-masing pihak menuduh lawannya sebagai intervensi asing di Libya yang melibatkan para tentara bayaran.

Sebenarnya Pemerintah Libya yang diakui PBB adalah GNA di Tripoli. Namun, pengakuan internasional itu menjadi tidak berarti di tengah konflik, perseteruan, dan kepentingan politik. Kini dua kelompok yang bertikai di Libya —beserta negara-negara pendukung lainnya— masing-masing mengklaim sebagai pihak yang sah dan menganggap lainnya kelompok ilegal.

Kita tentu prihatin dengan perkembangan yang sedang berlangsung di Libya. Lebih prihatin lagi dengan perseteruan yang berkembang menjadi konflik terbuka antara Turki dan Mesir. Bagi kita, Turki dan Mesir adalah dua negara Islam (berpenduduk mayoritas Muslim) yang perannya sangat penting dalam kemajuan Islam dan umat Islam. Perseteruan kedua negara --beserta negara sekutu masing-masing-- bisa dipastikan justru akan memperlemah kerja sama dan persatuan umat dan negara-negara Islam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement