Ahad 28 Jun 2020 02:33 WIB

Belajar Kesabaran dari Liverpool

Klopp bukanlah sosok dewa yang dengan cepat menyulap Liverpool jadi klub terkuat.

 Fans Liverpool FC tersenyum ketika mereka berpose untuk foto saat merayakan di luar stadion Anfield di Liverpool, Inggris, 26 Juni 2020. Liverpool telah dinobatkan sebagai juara Liga Primer untuk pertama kalinya dalam tiga dekade setelah Chelsea FC mengalahkan Manchester City FC 2-1 pada Kamis malam, 25 Juni. Kegagalan Man City untuk memenangkan duel krusial ini secara matematis menyerahkan gelar liga ke klub Liverpudlian yang dipimpin oleh pelatih asal Jerman Juergen Klopp.
Foto: EPA-EFE/PETER POWELL
Fans Liverpool FC tersenyum ketika mereka berpose untuk foto saat merayakan di luar stadion Anfield di Liverpool, Inggris, 26 Juni 2020. Liverpool telah dinobatkan sebagai juara Liga Primer untuk pertama kalinya dalam tiga dekade setelah Chelsea FC mengalahkan Manchester City FC 2-1 pada Kamis malam, 25 Juni. Kegagalan Man City untuk memenangkan duel krusial ini secara matematis menyerahkan gelar liga ke klub Liverpudlian yang dipimpin oleh pelatih asal Jerman Juergen Klopp.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Endro Yuwanto *)

Penantian panjang selama 30 tahun terbayar setelah Liverpool akhirnya resmi menjuarai Liga Primer Inggris pada Jumat, 26 Juni 2020. Kepastian gelar didapat setelah rival utama the Reds, Manchester City, tak mungkin lagi mengejar selisih poin lantaran kalah 1-2 dari Chelsea di Stamford Bridge.

Ketika pelatih asal Jerman, Juergen Klopp, datang ke Anfield untuk menukangi Liverpool pada Oktober 2015 lalu, banyak pendukung fanatik Liverpool menaruh harapan besar terhadap mantan pelatih Mainz dan Borussia Dortmund itu.

Harapan itu adalah menyaksikan Klopp membawa Liverpool menjadi juara Liga Primer Inggris. Sesuatu yang tak pernah lagi didapatkan hampir tiga dekade sejak terakhir the Reds menjadi juara pada 1990. Usai 1990, Liverpool puasa gelar, hingga dikangkangi Manchester United (MU) dalam urusan koleksi gelar Liga Primer Inggris dengan 20 trofi juara.

Juru taktik silih berganti hadir, dari Roy Evans, Gerald Houllier, Rafael Benitez, Brendan Rodgers, hingga Kenny Dalglish. Sampai akhirnya datang Klopp yang mengubah peruntungan Liverpool dalam empat tahun terakhir.

Kloop dianggap sebagai seorang pelatih yang bisa membawa asa buat klub yang kini mengoleksi 19 gelar juara liga di Inggris itu. Tapi tak semudah membalikkan tangan untuk mengaklaim Liverpool di tangan Klopp akan sukses.

Klopp memang pelatih yang punya potensi dengan ambisi besar untuk mengangkat pamor Liverpool, sebagaimana yang ia lakukan saat mengarsiteki Dortmund. Namun Klopp bukanlah sosok dewa yang dengan cepat bisa menyulap Liverpool jadi klub terkuat di Liga Primer Inggris.

Klopp mengambil-alih kursi pelatih Liverpool dari Brendan Rodgers saat tim berada di peringkat 10 klasemen. Semua tidak instan. Penampilan kurang memuaskan di laga-laga awal hingga tiga kekalahan di final dalam dua setengah tahun, sempat menimbulkan pertanyaan, kapan Klopp akan memberikan kesukesan untuk Liverpool. Sementara, Pep Guardiola bersama Manchester City terus membuat Liverpool jadi yang kedua dalam kancah domestik.

Kesabaran Liverpool seakan terus diuji. Para penggawa Liverpool harus menyaksikan para rivalnya, seperti MU, Arsenal, Chelsea, dan Manchester City, bergantian mengangkat trofi liga. Setelah era John Barnes dan kawan-kawan, pemain-pemain bintang kerap dihadirkan, dari Garry MC Allister, Dietmar Hamann, Djibril Cisse, Fernando Torres, hingga Luis Suarez. Belum lagi pemain lokal yang hebat seperti Robbie Fowler, Michael Owen, hingga Steven Gerrard. Tetapi semuanya selalu dapat kutukan ‘Next Year’, istilah yang jadi bahan olok-olokan haters Liverpool.

The Reds dan terutama para fan-nya dituntut terus bersabar. Menjadi fan Liverpool adalah sebuah pilihan yang tidak mudah, termasuk harus kebal menerima bully-an (perundungan) dari fan tim rival. YNWA atau "You'll Never Walk Alone", adalah lagu wajib dan salah satu elemen pada logo klub Liverpool yang berkembang menjadi slogan klub. Meskipun, dalam perkembangannya, singkatan YNWA sering dipelesetkan suporter tim rival, menjadi 'You'll Never Win Again', atau 'You'll Never Win Anymore'.

Pelesetan ini muncul karena seretnya prestasi the Reds di liga dalam tiga dekade. Penantian panjang merasakan gelar liga ini-lah yang membuat Liverpool selalu mendapat rundungan dari fan sepak bola Inggris lain. Padahal, di luar kompetisi domestik Inggris dalam beberapa dekade terakhir, Liverpool cukup sukses, termasuk merebut dua gelar Liga Champions.

Pada satu titik, Klopp akhirnya menasbihkan diri layak menyandang gelar dewa di Anfiled. Meski tetap saja ia dewa yang manusiawi dan membutuhkan proses. Setelah tiga tahun Klopp pun mempersembahkan titel juara liga untuk the Anfield Gank. Gelar yang melengkapi pencapaian prestasi Klopp sebelumnya berupa trofi Liga Champions 2018/2019, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Kesabaran segenap Liverpudlian pun berbuah manis. Liverpool akhirnya benar-benar mengangkat trofi liga bersama Klopp. Tak sekadar juara, Liverpool pun membumbuinya dengan sejumlah rekor. Yang terdahsyat adalah Liverpool melampaui rekor juara tercepat Liga Primer yang sebelumnya dipegang bersama oleh MU dan City. MU juara musim 2000/2001 dengan sisa lima pertandingan. Hal serupa diulangi City pada musim 2017/2018. Sementara, Liverpool juara dengan menyisakan tujuh pertandingan.

Semua yang dialami Liverpool dan fan-nya tentu layak menjadi bahan pelajaran kehidupan bagi siapa saja. Sabar, sabar, dan sabar adalah kata kunci sambil terus berusaha dan berdoa. Sabar butuh waktu tak pendek. Sabar juga butuh mental pemenang, bukan pecundang. Keyakinan bahwa pada titik tertentu kesabaran akan membuahkan hasil adalah kata kunci lainnya.

Tak hanya sabar, para fan Liverpool juga mengajarkan tentang kesetiaan dan loyalitas. Tak peduli klub sedang berjaya ataupun terpuruk, para Liverpudlian tetap setia pada the Reds. Sampai suatu ketika fan Liverpool sudah tak mempedulikan lagi apakah timnya menang atau kalah, yang penting tetap bermain menawan.

Kemenangan di liga tahun ini pun bisa menjadi momentum Liverpool untuk meraih kesuksesan lebih besar di beberapa musim ke depan. Sekarang, sejarah kembali menjadi latar belakang the Reds yang indah. Dan para penggawa Liverpool kini sudah tidak lagi dibayang-bayangi oleh kesuksesan para pemain legenda the Reds.

Inilah buah pembelajaran tentang kesabaran. Sebab, sepak bola bukan sekadar permainan menang dan kalah, akan tetapi ada pelajaran hidup dan kehidupan di sana.

*) Jurnalis Republika Online

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement