Senin 25 May 2020 20:02 WIB

Tradisi yang Berubah saat Lebaran

wabah Covid-19 mengubah semuanya, keluarganya hanya menghabiskan waktu di rumah.

Warga bersilaturahim menggunakan fasilitas panggilan video untuk saling meminta dan memberi maaf dengan kerabatnya saat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah.
Foto: ANTARA /Siswowidodo
Warga bersilaturahim menggunakan fasilitas panggilan video untuk saling meminta dan memberi maaf dengan kerabatnya saat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nugroho Habibi

Banyak yang berbeda dan menghilang dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah di tengah pandemi Covid-19. Tak ada mudik, tak ada berkumpul dan tak ada kunjugan ke tetangga. Sekadar jabat tangan pun tak ada.

Dede Supriadi (34 tahun) warga Kelurahan Pasir Jaya, Bogor Barat, Kota Bogor merasakan banyak perubahan. Usai mengikuti sholat Idul Fitri di Masjid Al-Hidayah yang tak jauh dari kediamannya dengan protokol Covid-19, Dede bergegas kembali ke rumah. Tak ada bersalam-salaman dengan jamaah.

Biasanya, sepulang dari masjid, Dede bersama istri dan kedua anaknya berkeliling ke rumah tetangga. Berjabat tangan dan berbincang sejenak di rumah tetangga. Namun, wabah Covid-19 mengubah itu semua. Keluarganya hanya menghabiskan waktu di rumah.

Dede mengakui masih ada tetangga mengulurkan tangan untuk jabat tangan bermaaf-maafan di hari yang fitri. Namun, ia terpaksa membalasnya dengan menekuk kedua tangan sambil menundukkan kepala.

"Kita hanya antisipasi, tetangga mengerti juga," kata warga RT/RW 02/10 Kelurahan Pasir Jaya, Bogor Barat, Kota Bogor itu.

Yang hilang, paling dirasakan dalam keluarganya yakni berkumpul keluarga besar. Tahun-tahun sebelumnya, seluruh kerabat dari wilayah Bogor hingga Depok pasti berkumpul di kediaman kerabat tertua yang masih berada di Kelurahan Pasir Jaya.

Kali ini, tradisi itu berubah. Dari yang langsung menjadi berkumpul secara virtual. Hanya menggunakan panggilan video melalui aplikasi WhatsApp. "Ngumpul keluarga besar nggak ada. Biasanya sekali kumpul 30 kepala keluarga, belum anak-anak kecil," kata dia.

Kemeriahan dan keceriaan keluarga besar, biasanya pecah saat kerabat-kerabat melihat riuh anak-anak. Ramai, penuh tawa, kadang dibalut dengan tangisan lantaran berebut kembang api atau mainan.

Para kerabat juga memberikan uang jajan kepada keluarga yang mempunyai anak kecil. Dede menyampaikan hasil uang jajan itu bahkan mencapai hingga jutaan. Anak-anak, Dede bercerita, seringkali penasaran dengan jumlah uang yang dapat dikumpulkan.

"Pas di rumah pasti buru dibuka. Adek (duduk di kelas PAUD) sama kakak (SD kelas 5) sampai Rp 1,2 juta lebih," tuturnya sambil mengelus rambut anaknya yang kedua.

Kendati ada yang berubah, Dede mengatakan, masih ada tradisi yang tak hilang. Jajan lebaran, terkhusus makanan khas yakni opor dan rendang masih wajib disediakan. Entah untuk konsumsi keluarga sendiri atau untuk kerabat dekat.

"Kalo yang kerabat dekat sini masih ada 16 kepala keluarga. Jadi masih bisa makan besar," ungkapnya.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie ARachim  juga merasakan tradisi yang berubah sama halnya seperti warganya. Tahun lalu, semuanya bebas melakukan silaturahim di hari kemenangan.

Kali ini begitu berbeda. Tak ada jabat tangan, tak ada silaturahim, baik dengan para organisasi perangkat daerah (OPD) maupun seluruh jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (Forkonpinda) dan open house. Dedie hanya menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga.

Selain antisipasi persebaran Covid-19, dia menyampaikan, Kota Bogor juga masih memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang melarang aktivitas berkumpul, berkerumun dan tetap menggunakan protokol Covid-19.

"Saya dan keluarga tidak melakukan kegiatan halal bihalal dengan OPD, Forkopinda maupun ke tokoh-tokoh senior lain. Hanya di rumah bersama keluarga saja," ungkap Dedie. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement